Tulisan ini merupakan lanjutan dari https://ronaldsukianto.com/chiang-mai-bagian1/ dan mencakup perjalanan hari kedua di Chiang Mai.

Total perjalanan saya di Thailand: 3 hari 2 malam Chiang Mai, 2 hari 1 malam Chiang Rai, 3 hari 2 malam Bangkok. Hari pertama sesampai di Chiang Mai malam hari, jadi efektif tidak ada perjalanan hari itu dan hari dimulai esoknya dengan perjalanan menuju Doi Inthanon. Hari kedua kami habiskan dengan belajar celup ikat, kuliner, dan sightseeing di museum seni kontemporer.

Cerita perjalanan yang saya bagi disini hanya mungkin untuk dilakukan dengan bantuan motor untuk mobilitas yang ekstra cepat. Karena waktu yang kita punya di Chiang Mai hanya 2 hari, kita harus dapat berpindah waktu dengan cepat dan ringkas serta memotong tujuan yang tidak terlalu menarik. Sepeda motor sangat membantu dalam mobilitas kami, terutama saat bergerak di daerah kota yang padat. Selain itu, jalan-jalan dengan motor akan memberikan pengalaman yang beda!

Celup ikat di Ban Rai Jai Sook

Karena melihat cerita seorang blogger tentang celup ikat di Chiang Mai, saya jadi penasaran ingin coba. Lokasi tempatnya lumayan jauh dari pusat kota, di daerah pinggiran dekat perumahan yang cukup tenang dan jauh dari keramaian. Lagi-lagi kami tidak akan kesini kalau tidak menggunakan motor. Berikut tautan dan Facebook yang bisa dilihat untuk informasi, pastikan kalian kontak jika ingin berkunjung kesana.

Sekilas mengenai tempat tersebut, sebuah rumah dengan halaman yang luas. Rumah utama mereka terbuat dari kayu dan penuh dengan nuansa tradisional Thailand. Workshop utama juga terbuat dari kayu dan bernuansa sejuk. Di pekarangan rumah yang luas ada dua ekor anjing yang bermain dengan riang, kadang mengejar kawanan bebek dan ayam yang berkeliaran luas di halaman. Suasana disini memang menyenangkan dan unik, itulah yang saya rasakan pertama kali sampai dan memarkir motor di depan rumah. Sebetulnya kami sudah kesini sebelumnya pada hari pertama, sempat berhenti sebentar di perjalanan menuju Doi Inthanon karena kebetulan daerah sini sejalan dengan arah perjalanan.

Ban Rai Jai Sook adalah tempat belajar kebudayaan Thailand terutama rajut tradisional dan celup ikat. Saat kita belajar celup ikat, kita juga dijeaskan tour singkat tentang seni rajut tradisional Thailand. Saat itu ada live demo dari seorang pemuda yang sedang membuat kain warna biru indigo. Pewarnaan disini juga menggunakan warna natural loh, jadi bahanya itu diambil dari alam. Warna indigo itu dihasilkan dari salah satu jenis kayu gitu.

Untuk belajar celup ikat, kita perlu membayar biaya sekitar 500 baht. Bagi saya harga yang saya bayarkan tersebut worth the value kok. Pengalaman yang menarik sambil menikmati suasana Chiang Mai yang tidak hingar bingar. Untuk celup ikatnya sendiri, saya rasa tidak beda jauh dengan teknik celup ikat Indonesia sih. Dari sini kita akan belajar bagaimana senyawa kalsium karbonat, zat besi, dan aluminium untuk membentuk warna tertentu.

Museum seni kontemporer

MAAAM stands for Museum of Arts And and it is located quite far from the city centre. It is easy to reach using motorbike and took around 30 minutes one way. There was an admission fee for around 150 baht per person. It shows some local artist.

MAIIAM adalah museum seni kontemporer yang berlokasi di San Kamphaeng, Chiang Mai. Dengan motor dibutuhkan 30 menit untuk sampai. Kamu perlu 150 baht per orang untuk menikmati karya-karya seni artis lokal. Beberapa karya terkesan absurd, dan kebanyakan tidak bisa saya mengerti tanpa diam mengamati selama beberapa menit. Memang pada dasarnya saya tidak terlalu

Kuliner saingan Mie Ayam Indonesia – Khao Soi

Kalau kita googling tentang makanan wajib coba di Chiang Mai, pasti akan keluar Khao Soi. Khao Soi adalah makan sup kari berbahan santan yang disajikan dengan mi telur atau bihun beras.  Untuk pilihan daging, antara daging babi atau daging ayam. Memang mi kari tidak umum ya di Indonesia, kita bahkan lebih akrab dengan mi yang disajikan lebih kering seperti mi ayam dengan kuah yang terpisah. Kuah Khao Soi ini memang kelihatan seperti kuah ketupat sayur dari warnanya, namun dari rasa lebih gurih. Dugaan saya mereka pakai salah satu bumbu khas lokal yang membuat rasanya unik.

Beberapa kali browsing tempat Khao Soi populer, akhirnya kami memutuskan untuk coba makan di Khao Soi Samerjai. Berbekal panduan aplikasi Google Maps dan nyelip2 di tengah kepadatan lalu lintas Chiang Mai, akhirnya sampai di tempat. Tempatnya agak jauh dari keramaian, dan paling gampang dicapai dengan motor. Parkir motor di gang samping, kita segera meluncur masuk karena sudah lapar.

Kami memesan Khao Soi ayam, khusus saya ditambah semacam sosis daging babi (non halal) dan minuman teh Thailand. Untuk rasa sosisnya, biasa aja dan saya tidak recommend untuk coba ini. Untuk Khao Soi saya suka rasa kuahnya yang kental dan gurih, tapi porsi mi nya menurut saya cukup sedikit sehingga rasanya nanggung gitu ya. Memang porsi dagingnya cukup banyak sih, agak terbalik dengan porsi mi di Indonesia yang biasanya malah banyakan mi nya dibanding dagingnya.

Biaya perjalanan dengan motor

Malam hari (arrival)Baht
SIM card beli di 7/11299
Jajan air putih dan juice60
Taxi dari airport150
Makan malam PaNas McDonald195
Hari pertama: Doi Inthanon dan Doi Suthep 
Sewa motor 1000 baht deposit, 2 x 200 baht400
Sarapan cakwe di pasar23
Makan besar di Inthanon215
Makan malam sushi bar di dekat Chiang Mai University175
Jajan di pasar malam120
Hari kedua: tie-dye, art musem, going to Chiang Rai
Lunch Bunnyhop café180
MIIAM tiket masuk150
Isi bensin20
Grab ke terminal bus (menuju Chiang Rai)160
Total2,147 baht (950 ribu Rupiah)

Sekian cerita saya jalan-jalan naik motor di Chiang Mai. Naik motor menghemat biaya perjalanan dan juga memotong waktu perjalanan. Jangan lupa untuk bawa SIM internasional ya! Baca tentang bagaimana cara membuat SIM internasional di Jakarta:

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 Ronald Sukainto
You cannot copy content of this page