"Maaas, temani aku yuk. Aku lagi ingin minum wedang jahe malam ini, badanku lagi gak enak rasanya.""Aku lagi ingin makan pecel ayam, kol goreng. Ayo kita makan di angkringan. Naik MRT saja yuk, turun di blok M."
- cuplikan drama Senopati class

Impian saya di masa depan, siklus budaya pop populer negara Asia akan mulai memberi jatahnya bagi Indonesia. Setelah Taiwan, China, Thailand, dan Korea akan waktunya bagi Indonesia. Standar kecantikan dan ketampanan berkulit cerah dan pucat akan bergeser menjadi kulit sehat sawo matang kecokelatan. Tidak ada lagi oppa-oppa Korea yang ada hanya mas-mas Indo. Ramyun Korea akan tergeser ole mie instan Indonesia yang nikmat sekali itu, orang-orang akan berdatangan ke tempat wisata Indonesia yang menjadi salah satu tempat syuting IndoDrama Senopati Class di Dieng, Banyuwangi.

Saya pertama kali mengenal budaya Korea melalui game online, 15 tahun lalu melalui game Ragnarok Online yang dibuat oleh Lee Myoung Jin. Konsep hantu Bongun dan Munak, rubah berekor sembilan, dikenalkan melalui game. Kemudian ada game Ayodance yang menyetel lagu-lagu Korea, membuat budaya Korea mulai masuk kepada generasi muda di Indonesia. Wanita muda mulai dihantam dengan drama-drama Korea seperti Boys Before Flowers dan Full House. Namun saya tidak menyangka Korea akan sebesar sekarang, bahkan mengalahkan Jepang yang lebih dahulu masuk ke pasar Indonesia.

Sekarang, dari beberapa orang terdekat hampir setengah memakai gawai pintar merek Samsung, menggunakan skincare merek Korea dengan tujuan kulit cerah dan mulus, bahkan saya sendiri suka makanan Korea yang menurut saya sangat unik dan autentik. Anak-anak muda lebih memilih jalan-jalan ke Myeongdong, Seoul daripada ke Tokyo biar merasakan suasana seperti drama-drama di KDrama favoritnya. Budaya Korea telah berhasil membuat industri yang sangat besar, melalui budaya yang disisipi. Namun apa itu hanya keberuntungan semata atau rencana yang masif disiapkan oleh bangsa Korea?

Kenapa film Korea menarik-menarik?

Film Korea pertama yang memenangkan Grammy Award tahun kemarin, Parasite. Merupakan salah satu film menarik yang dibuat oleh industri kreatif Korea. Beberapa film favorit saya adalah Memories of Murder, Oldboy, Along with the Gods, Taxi Driver, Speed Scandal, Hello Ghost, Miracle in Cell number 7, dan lainnya. Film Korea bisa membuat sejarah pembunuhan berantai Korea menjadi film hits, contohnya film Memories of Murder yang berdasarkan pembunuhan berantai Hwaseong. Mulai dari budaya tentang lookism di Korea (200 pounds of beauty) sampai film taxi driver yang bercerita tentang kisah heroik supir taksi di perang dunia, mereka berhasil membuat cerita dan sepenggal budaya Korea menjadi penghasil uang yang menghibur banyak orang.

Saya adalah penggemar film Indonesia, contohnya Kuntilanak, the Raid, Pengabdi Setan, Wanita Tanah Jahanam, Hantu Bangku Kosong, Jelangkung, 5cm, Jomblo dan masih banyak lainnya. Kualitas film kita sebenarnya sama dengan film Korea, banyak cerita-cerita kreatif yang menarik dan dikemas dalan sinematografi yang baik. Namun kenapa film kita tidak laku?

Saya sendiri tidak tahu bagaimana untuk mendukung industri kreatif kita bisa semaju Korea. Bagi kita yang mampu untuk nonton bioskop, bolehlah menonton film lokal di bioskop selain nonton Marvel Universe series. Kalau kita masih menonton film lokal melalui versi bajakan, industri kita tidak akan maju-maju karena mungkin sukur-sukur untuk nutup biaya produksi saja.

Mencintai budaya kita sendiri

Orang Korea merasa apa yang menarik dari budaya mereka, begitulah dengan kita yang merasa budaya kita tidak menarik. Saya sempat 2 bulan tinggal di Korea untuk merasakan hidup disana, orang-orang disana sangat terkejut dengan budaya kita yang dipandang menarik. “Wah asik sekali tidak harus wajib militer!” “Asik sekali, SMA bisa main dengan gembira. Kita disini harus belajar mati-matian untuk diterima di universitas” Ternyata apa yang tampak di kehidupan nyata, tidak seindah yang kita bayangkan seperti di tayangan drama dan program TV. Mulai sekarang kita sudah harus promosi kecil-kecilan budaya kita nih.

Tapi bagi orang asing, budaya kita sungguh menarik! Bisakah budaya kita ini menjadi sesuatu yang menjual? Pertanyaan itulah yang bisa dijawab oleh para pemikir dan pengambil keputusan negara kita. Semoga industri kreatif kita semakin maju, saya menantikan di 10 tahun depan IndoPop, IndoDrama, wedang jahe, mie goreng warkop menjadi populer di seluruh dunia. Selamat malam.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 Ronald Sukainto
You cannot copy content of this page