Mengejar Sunrise di Bromo – via Malang

REFLEKSI PERSONAL DAN CURHATAN PERJALANAN

Sunrise view

Perjalanan ini memang singkat karena efektif cuman sekitar 1 hari namun banyak sekali yang kita lakukan. Sarapan di Malang, nyari jajanan, jalan kaki menjelajah museum dan alun-alun, sempat main di Gramedia Malang, nongkrong di Toko Oen, istirahat di losmen AiryRoom sebelum begadang, makan gado-gado komplek super pedes, perjalanan tengah malam naik hardtop diselingi angin sepoi-sepoi Malang, nungguin sunset sambil ngantuk-ngantuk ngebayangin indomie yang tadi dimakan, mensyukuri nikmatnya makan dan tidur di tengah dinginnya Bromo, melihat munculnya matahari yang malu-malu sehingga terlihat gagahnya gunung Semeru dan puncaknya di sebelah timur. Naik ke kawah Bromo, mereward diri sendiri dengan semangkok bakwan malang dan cilok pedes, melihat horizon di padang pasir berbisik sambil melihat orang-orang sibuk berfoto dengan pose andalan untuk posting media sosialnya. Kembali dari Bromo, matahari sudah naik dan udara hangat menyambut saat kita masuk ke gerbang kota Malang. Macet menanti sehingga lapar yang kami rasakan kami ganjar dengan makan siang rawon.  Di tulisan ini, mencoba sedikit berbagi mengenai cerita perjalanan saya beserta sedikit tips jika kamu ingin kesana. Bersama orang yang tepat, memori sesimpel apapun terasa menyenangkan saat diingat. Partner perjalanan saya kali ini sangat asik dan tangguh! More stories to come!

  • Trip 24 jam menjelajah kota Malang dan sekitarnya + 300 ribu rupiah open trip via Malang ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
  • What to visit in Bromo area: Kawah Bromo, Bukit Teletubbies, Pasir Berbisik, dan Sunrise Bukit Cinta.
  • Menjajaki kuliner dan jajanan populer di Malang: Cwimie Hok Lay, Rawon Nguling,  dan Toko Oen.
Gagahnya Bromo

Penasaran dengan Bromo dan Semeru – saya tidak pernah berkesempatan untuk datang ke Bromo ataupun Semeru sebelumnya. Saya sudah cukup banyak jalan-jalan baik itu untuk liburan maupun urusan kerjaan ke daerah-daerah di Indonesia, namun belum pernah sempat main kesana. Di awal Desember 2019, saya berkesempatan untuk main ke Malang dan saya menyempatkan untuk main ke Bromo. Tujuannya ingin melihat bagaimana indahnya Bromo dan Semeru dari kejauhan, sambil menikmati matahari terbit disana. Karena saya pernah memakai jasa Nahwa Tour sebelumnya untuk open trip ke Banyuwangi dan cukup oke , saya memesan slot open trip di Nahwa Tour. Harga open trip Bromo semuanya sama di kisaran 300 ribu rupiah include penjemputan di kota Malang.

Untuk menuju Bromo sendiri ada beberapa cara menuju kesana, yaitu melalui Malang dan Probolinggo. Jangan ketuker antara Purbalingga dan Probolinggo ya. Bromo sendiri terletak diantara beberapa Kabupaten, Kabupaten Malang, Pasuruan, Lumajang, dan Probolinggo. Open trip paling populer dan umum melalui Malang, dan kebetulan banyak yang ingin dijelajahi dan dicoba di Malang jadi kita lewat Malang saat itu.

Perjalanan Jakarta – Malang

Flight pagi jam 7 dari Halim  menggunakan Batik Air menuju Malang. Sesampai bandara, kita langsung tancap menuju alun-alun Malang untuk mencari sarapan. Tujuan pertama adalah bakmi ayam!

Sarapan pagi dan kuliner di Malang, mengintip museum Brawijaya
Cwimie Hok Lay

Untuk pilihan bakmi ayam, kami sepakat untuk mencoba cwimie di Kedai Hok Lay.  Unik banget tampilannya, dengan bakwan lebar dan selada yang besar. Tekstur mienya lembut banget, tidak seperti bakmi Medan atau Kalimantan. Namun rasanya menurut saya terlalu asin. Tapi untuk yang ke Malang wajib sih nyobain ini, sekalian nyobain minuman khasnya yang rasa moka. Lokasi dekat banget dengan alun-alun kota Malang. Di dekat sana juga ada Rawon Nguling yang lumayan top disana. Kami sempat mencoba di hari kedua setelah pulang dari Bromo, namun menurut saya rasanya biasa saja seperti rawon biasanya. Rawon Sampit Bandara jauh lebih enak.

Setelah sarapan pagi, kita menuju museum Brawijaya untuk mengisi waktu. Sayangnya kita tidak berlama-lama disini karena tidak terlalu banyak yang menarik. Barang yang dipajang terlalu banyak dan informasi kurang lengkap. Kemudian, kita meluncur ke Toko Oen yang terkenal dengan dessertnya.

Dekorasi dan ambience di Toko Oen asik banget, klasik dan santai buat ngobrol sore gitu tipenya. Wajib dicoba mampir saat ke Malang.

Perjalanan tengah malam menuju Bromo

Tepat sekitar setengah 1 malam, kita dijemput oleh driver hardtop Toyota untuk menuju gerbang Bromo. Perjalanan ke pintu masuk taman nasional sekitar 1 jam. Kemudian perjalanan melintasi padang pasir sekitar 1 jam setengah. Asik banget! Angin malam sejuk menemani laju hardtop yang lumayan ngebut, disertai deru mobil lainnya yang mencapai ratusan. Bromo populer sekali! Setelah pagi dan mathari muncul, saya baru sadar ternyata yang kita lewati adalah padang pasir yang terkenal itu.

Sampai di check-point, kita menunggu sunrise yang masih sekitar 2 jam lagi. Tentunya waktu sebanyak itu, sebagian kita isi dengan menghangatkan badan dengan semangkuk Indomie goreng + telor dan segelas wedang jahe hanget. Harga makanan disana normal, jadi jangan takut untuk makan disana akan diketok harganya.

Indomie subuh

FYI, poin sunrise kita di Bukit Cinta. Tour guide menyarankan agar kita menunggu disana, karena Bukit Penanjakan terlalu jauh. Info yang saya dapatkan sih Bukit Penanjakan jauh lebih bagus karena lebih tinggi sehingga view yang didapatkan lebih cantik karena tidak terhalang Tengger. Bukit Cinta ramai sekali, mungkin karena semua orang yang ikut tour disarankan untuk menunggu disana. Anyway, kami tidak beruntung mendapat sunrise karena tertutup bukit namun mendapatkan momen yang memorable. Setelah matahari naik dan terang, rombongan mobil turun ke padang pasir untuk menuju kawah Bromo.

Untuk menuju kawah Bromo, bisa jalan kaki atapun naik kuda. Tarif yang ditawarkan sekitar 100 ribu rupiah. Kami memutuskan untuk jalan menanjak menuju lokasi yang berjarak sekitar 3 km. Kawah Bromo memang menarik sekali, dalam kondisi yang masih aktif kita bisa melihat indahnya kawah yang ditambahi asap belerang. Penanjakan akan terbayar penuh dengan indahnya cekungan kawah.

Turun dari kawah, kami bersantap makan khas Malang yaitu Bakwan Malang. Nikmat sekali adem-adem sambil makan bakso.

Kemudian kita menuju Pasir Berbisik, tempat yang terkenal karena film terkenal Christine Hakim di tahun 2001. Tour guide akan membawa kita ke spot-spot yang Instagrammable agar peserta bisa berfoto khas Bromo. Percaya saja deh dengan mereka, sudah ribuan kali mereka mengambil foto turis disini.

TIPS AND TRICKS

  • Pilih Bukit Penanjakan untuk melihat matahari terbit! Mungkin saat low season kita bisa jalan kesana tanpa perlu berjibaku dengan turis-turis lain.
  • Jika ingin merasakan pengalaman berbeda, bisa dicoba untuk menyewa motor trail untuk menuju Bromo. Penyewaan motor sekitar 250 ribu rupiah.
  • Bromo cukup dingin, jadi pastikan pakai lengkap berlayer dan tutup kepala dan scarf. Saya sendiri pakai sarung tangan juga karena menjelang subuh dingin sekali.
  • Total biayaTour 300,000 + indomie telor 20,000 + bakwan malang 20,000 = 340,000

 

Banyuwangi Trip

What’s up readers! Kali ini gw akan mencoba share trip ke Banyuwangi, Jawa Timur yang punya banyak tempat liburan yang terkenal. Berikut daftar tempat liburan yang bisa dijangkau lewat Banyuwangi:

  1. Kawah Ijen
  2. Gunung Raung
  3. Watudodol – Pulau Menjangan – Bangsing
  4. Taman Nasional Baluran
  5. Taman Nasional Meru Betiri
  6. Taman Nasional Alas Purwo
  7. Green Bay
  8. Pantai Pulau Merah – Pantai Mustika
  9. De Jawatan
  10. Taman Nasional Bali Barat
Sepedaan bareng Pak Jokowi

Karena keterbatasan waktu dan juga kendala cuaca, kami hanya mengunjungi tempat-tempat yang dicetak tebal dari daftar diatas.  Enaknya wisata di daerah sini: nyari hotel murah gampang, makanan murah banyak tersedia, dan transportasi sangat mudah dijangkau (bahkan transportasi pesawat langsung sudah ada di Bandara Blimbingsari).

Itinerary

Hari pertama

08:00 Mendarat di bandara Blimbingsari

08:30 Sampai di Watudodol, perjalanan taksi dari Bandara sekitar 30 menit

09:00 – 16:00 Pulau Menjangan open trip, perjalanan sekitar 1 jam, snorkelling, makan siang di Pulau Menjangan (termasuk paket open trip), snorkelling lagi, singgah di pulau Tabuhan, kembali ke Watudodol

18:00 – 00:00 Istirahat di hostel sebelum ke Ijen tengah malam

Hari kedua

00:00 – 01:00 Perjalanan dari Banyuwangi ke checkpoint Paltuding, Ijen

01:00 – 01:30 Persiapan pendakian, makan malam di Paltuding

02:00 – 03:30 Pendakian ke puncak Ijen

03:30 – 04:00 Turun ke kawah Ijen untuk melihat blue fire

04:00 – 05:30 Foto-foto dan observasi blue fire

06:00 – 07:00 Perjalanan turun ke Paltuding

09:00 – 10:00 Istirahat sejenak di hotel

10:00 – 11:30  Perjalanan ke Taman Nasional Baluran

12:00 – 16:00 Explore Taman Nasional Baluran (spot foto, pantai, observe binatang liar)

Hari ketiga

09:00 – 12:00 Perjalan ke Pantai Pulau Merah – Pesanggaran dari Banyuwangi

13:00 – 14:00 Pantai Mustika

14:30 – 18:00 Pantai Pulau Merah – enjoy sunset – dinner

Hari keempat

Perjalanan kembali ke bandara dan terbang ke Jakarta.

KAWAH IJEN

Kawah Ijen adalah highlight dari trip kali ini, karena gw merasa senang banget dengan Ijen trip. Kawah Ijen terkenal banget dengan fenomena api biru-nya yang dihasilkan dari pembakaran belerang yang terdapat di lereng kawah Ijen. FYI, tempat ini sebenernya tidak boleh dimasuki oleh turis karena berbahaya. Terlepas dari konsentrasi belerang yang tinggi, medan dan jalan menuju lereng juga berbahaya.

*sehari setelah kunjungan saya ke Ijen, ada kejadian pemandu wisata meninggal karena terjatuh ke pipa belerang saat memotret wisatawan dekat api biru, please be careful and mindful always guys. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4517910/diduga-terjatuh-dari-bibir-kawah-guide-kawah-ijen-tewas

Gw menggunakan jasa open trip dari Nahwa Tour (nahwatour.com) yang sangat responsif dalam melayani pelanggan. Total biaya per orang untuk trip Ijen – Baluran pada Maret 2019 sebesar 400,000 IDR per orang.

Kawah Ijen sendiri telah menjadi sumber mata pencaharian warga sekitar sejak puluhan tahun lalu – sumber menambang belerang. Namun seiring populernya Kawah Ijen di kalangan turis, banyak penambang belerang yang beralih profesi menjadi tour guide atau penarik gerobak. Penarik gerobak adalah jasa yang diberikan untuk wisatawan yang tidak sanggup naik menuju puncak Ijen, jadi mereka akan duduk diatas gerobak yang ditarik dan didorong oleh tiga orang. Biaya PP gerobak dari bawah sekitar 800 ribu rupiah, tergantung negosiasi. Gw melihat beberapa orang yang tidak sanggup di pertengahan jalan menggunakan jasa untuk setengah jalan dengan biaya 400 ribu rupiah. Bagi yang tidak terbiasa mendaki atau memiliki masalah di dengkul, disarankan untuk tidak memaksakan diri dan jika masih ngotot untuk naik maka gunakan gerobak. Setelah sampai di puncak pun kita masih perlu turun ke lereng untuk melihat api biru. Medan berbatu cukup berbahaya dan antrian turun ke bawah kadang sangat panjang karena ratusan orang ingin turun ke area blue fire tapi jalan hanya muat dilalui satu orang.

Indomie kuah sebelum pendakian Ijen

Sekitar jam 1 kita sampai di checkpoint Paltuding seteleh dijemput di kota Banyuwangi dengan mobil jeep. Sampai disana, kita nongkrong di warung sambil ngopi dan makan indomie + gorengan. Disitu kita di briefing oleh pemandu dan diberikan masker gas. Gw menyantap satu porsi indomie kuah + telor sebagai bekal untuk nanjak nanti. Indomie subuh-subuh nikmat juga ternyata, lebih lagi udara di Paltuding sudah agak adem-adem semriwing.

Tepat sekitar pukul 2 kita mulai pendakian ke puncak. View ke puncak masih belum bisa dinikmati karena terlalu gelap, kita bisa menikmati betapa indahnya pemandangan disana saat pagi hari saat turun ke Paltuding. Berikut beberapa gambar yang saya dapat di lereng Ijen menuju blue fire (blue fire tidak tampak lagi setelah sunrise).

Salah satu temen gw tidak ikut turun ke lereng, jadi dia menikmati sunrise di puncak. Ternyata pemandangan saat sunrise itu keren banget di puncak! Mistik-mistik cantik gitu. Saran gw setelah lu melihat blue fire yang terkenal itu, segera naik lagi ke puncak. Jangan terlalu lama buang waktu di bawah ngirup banyak uap belerang. In my case, gw gak dapet jelas pemandangan blue fire karena angin lagi bertiup kencang. Peak season untuk Kawah Ijen sendiri adalah diatas bulan Juni saat blue fire lebih jelas terlihat.

 

View dari Puncak Ijen – credit @msantihayusukma
View dari Puncak Ijen – credit @msantihayusukma
BALURAN

Baluran sedikit mengecewakan bagi gw – karena binatang-binatang liar termasuk banteng lagi pada ngumpet. Anyway rasa kecewa sedikit terobati karena view gunungnya lumayan cantik disini.

Baluran itu adalah salah satu taman nasional milik pemerintah lokal, yang konon masih dibagi dua sama Banyuwangi dan Bondowoso. Dulunya taman nasional ini adalah hutan produksi kayu milik Perhutani dan kemudian dibeli oleh pemerintah. Di taman nasional ini ada banyak binatang liar: banteng, rusa, monyet, dan kabarnya ada  macan tutul. Tapi yang terakhir sudah lama tidak terlihat. Sayangnya waktu gw kesana, cuman melihat monyet dan rusa yang malu-malu untuk muncul.

Banyuwangi punya dua taman nasional lagi yaitu Meru Betiri dan Alas Purwo. Yang terakhir itu terkenal banget karena mistis.

JAWATAN

Jawatan atau yang dinamakan De Jawatan, tertelak di desa Benculuk sekitar setengah jam dari kota Banyuwangi. Kita singgah di Jawatan di pagi hari sebelum samai di Pantai Pulau Merah di siangnya.

Pohon Lord of The Rings – De Jawatan

Jawatan sendiri adalah sebuah taman yang tidak terlalu besar, namun penuh dengan pohon-pohon trembesi yang sudah berumur puluhan tahun. Skenik disini dikenal para wisatawan mirip dengan Lord of The Rings. Well, jika kalian mau ke arah Pantai Pulau Merah sok silakan disamperin Jawatan. Setengah jam pun cukup untuk explore tempat ini. Enak buat nyantai-nyantai sambil minum es kelapa muda karena hijau banget dan adem.

PULAU MENJANGAN

Untuk trip ke Pulau Menjangan, kita menggunakan jasa open trip dari Menjangan Tour (+6281338417822). Hari itu kita berangkat total 5 orang dari Watu Dodol (3 rombongan kita dan 2 orang dari Jatim). Jadi check point kita di Watu Dodol, sarapan sebentar lalu siap berangkat pake kapal dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 1 jam. Kita gak langsung turun di pulau Menjangan, snorkeling dulu sebentar sekitar 1 jam. Selesai snorkeling kita istirahat makan siang di Menjangan.

Pulau Menjangan dinamakan sesuai namanya, karena banyak rusa menjangan yang berkeliaran disana. Kita sempat melihat satu menjangan yang kemudian lari masuk ke dalam hutan lagi. Di pulau ini juga ada beberapa pura tempat ibadah umat Hindu, karena ini merupakan area Bali. View disini lumayan bagus, karena dapet view pantai dengan background gunung. Minusnya adalah pesisir pantai yang kotor banget. Banyak sampah yang tercecer di tepi pantai mulai dari botol bekas sampai plastik sabun. Kabarnya Ibu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan kita sempat marah-marah saat berkunjung kesini dan pulau Tabuhan. Pantai langsung dibersihkan namun gak berapa lama kembali kotor. Ya karena yang kotor sebenernya adalah lautnya, bukan pantainya. Yuk kita hindari mengotori laut tercinta kita! Gak mau kan pas lagi mau foto ala-ala di pinggir pantai keliatan plastik bekas mie instan?

Banyak sampah terdampar di Pulau Menjangan

*Hati-hati sama ubur-ubur di sekitar pinggir pantai karena temen gw sempet tersengat, alhasil kaki gatel-gatel deh.

Beres makan siang kita lanjut lagi snorkeling di spot yang lain, kemudian mampir ke Pulau Tabuhan sebelum balik ke Watudodol.

Pulau Tabuhan
PANTAI PULAU MERAH

Pantai Pulau Merah dijangkau sekitar  2 jam setengah dari Banyuwangi. Di pantai ini lumayan banyak yang surfing walaupun sebenernya dilarang untuk main air di laut. FYI, ini salah satu pantai laut selatan yang biasa banyak kasus orang hilang terseret arus.  Jadi yang bisa dilakukan disini adalah sunset hunting dan jalan-jalan di sepanjang pantai. Di sekitar sini juga ada beberapa penginapan yang asik.

Kebetulan kita menginap di tempat yang biasa digunakan karyawan tambang emas. Yep, disana ada penambangan emas. Dari pantai Mustika, terlihat gunung yang perlahan habis karena aktivitas penambangan.

Pulau Merah yang bisa diakses waktu surut
Lokasi tambang emas
Lari sore di Pantai Pulau Merah
Pantai Mustika – salah satu pantai baru di sekitaran Pantai Pulau Merah

Akomodasi

Eston House – Guest House

Budget-friendly guest house yang ternyata tempat kos-kosan juga. Terletak di pusat kota Banyuwangi, yang dikelilingi banyak guest house lainnya. Jadi bakal gampang untuk mencari tempat ini guys. Eston House sangat nyaman, harga yang diberikan juga sesuai dengan fasilitas.

Red Island Villa

Drama sempat terjadi disini, karena kita booking via Booking.com dengan nama yang berbeda. Di booking.com tertera sebagai Surf and Stay Villa yang ketika kita cari keliling Pantai Pulau Merah gak nemu-nemu. Berbekal sotoy-sotoy dan nanya orang sekitar, ternyata villa yang dimaksud bernama Red Island Villa. Penjaga villa tidak menerima konfirmasi dari booking.com jadi kita harus bayar lagi disana namun untungnya hari itu tidak ada pengunjung jadi kita bisa langsung masuk malam itu. Singkat cerita, kita nginap disana dan booking.com kita di-refund. Good place, bisa muat 4 orang. Villa ini sebenernya peruntukkan untuk pegawai tambang emas yang mess karyawannya berada di Pantai Pulau Merah juga.

Kamar Red Island Villa

Total biaya

Ijen Baluran open trip                               400,000
Menjangan open trip                                  275,000
Eston house 2 malam - Banyuwangi                     550,000
Red Island Villa 1 malam (share tiga orang)          175,000
Rental mobil Banyuwangi 1.5 hari (share tiga orang)  280,000
Makan (rata-rata 40 ribu per makan) + jajan          500,000
Belanja oleh-oleh                                    300,000
Taxi + grab                                          250,000
Total                                              2,830,000

Tips

Makanan khas

Sego Tempong

Nasi campur khas Jawa Timur yang pedes. Salah satu favorit gw disini. Bedanya dengan nasi campur biasa ini, kurang manis dan lebih pedes. Sayangnya gw gak ada foto sego tempong.

Sop kesrut !!

Hari terakhir sebelum balik ke Jakarta, gw untunya berkesempatan nyobain sop kesrut. Sop yang dibuat dengan unsur belimbing wuluh dan cabai ini seger banget, jadi pedes-pedes asem gitu. Disantap pake nasi putih + tempe / tahu goreng mantep banget! Must try!

Sop Kesrut – pedes pedes seger

Persiapan mendaki

  • Sebelum mendaki Ijen, pastikan kamu siap karena medan yang nanjak walaupun gak panjang tapi cukup menguras tenaga. Banyak yang tidak terbiasa / kurang aktif mengalami kesulitan disana. Lumayan kan harus bayar gerobak untuk naik kesana. Jadi sebelum kesini, biasakan jogging sedikit untuk persiapan badan kita ya.
  • Untuk pakaian, siapkan pakaian lapis untuk menangkal angin yang lumayan kencang di puncak.
  • Untuk sepatu, sendal tidak diperbolehkan dan sepatu hiking dengan grip bagus sangat disarankan.
  • Siapkan makanan ringan seperti cokelat atau madu untuk tambahan tenaga saat naik.

Oleh-oleh khas

Oleh-oleh khas Banyuwangi yang wajib coba:

Telur asin asap, kopi Banyuwangi, asem-asem, sambel khas Banyuwangi.