Jangan menabung saham di IDX

Bagi teman-teman yang membaca ini, mungkin sudah sering mendengar tentang YUK NABUNG SAHAM yang dikampanyekan belakangan ini. Tujuannya agar selain hanya menyimpan uang di bank (atau malah dihabiskan) dengan imbal balik deposito yang seringkali termakan laju inflasi yang lebih tinggi, baiknya uang dibelikan saham yang (diharapkan) bisa tumbuh 10-15% per tahun. Dengan keajaiban ke delapan dunia yaitu compounding interest maka uang yang kita tabung akan bertumbuh jauh lebih cepat dibanding menabung biasa di bank. Apakah kenyataan dan data historis berkata demikian?

Menyimpan saham UNVR (Unilever Indonesia) dari 5 tahun lalu, nominal modal anda akan bernilai 74.46% saja atau berkurang 26.54%. *Disclaimer untuk data ini hanya untuk penggambaran data historis – tidak ada afiliasi dengan emiten ataupun keputusan terkait emiten. Data ini saya ambil 30 April 2021 dan ternyata sampai sekarang harga UNVR masih turun terus ke level 5,000an dan menjadi bahan bullyan di forum saham

Tapi tentunya, untuk menabung saham, harapannya timeframe investor juga lebih panjang diatas 5 tahun. Jika ditarik lebih jauh, UNVR tentunya memberikan yield yang jauh lebih baik dibandingkan dengan timeframe 5 tahun. Tetapi poin saya bukanlah tentang investasi di UNVR, melainkan mencoba memberikan sudut pandang lain ke index investing perihal alternatif yang lebih baik dibandingkan membeli saham bluechip dengan kapitalisasi besar seperti BBCA, BBNI, BMRI, BBRI, dan lainnya.

Pemula mulai dari investasi saham bluechip?

Pertanyaan ini dapat dijawab dengan YA, jika kita merujuk ke waktu pandemi pada bulan Maret-April 2020. Market crash yang terjadi menyebabkan harga saham bluechip hancur disaat kondisi perusahaan tidak seburuk itu, market tidak mengapresiasi dengan harga yang normal sehingga banyak saham undervalued. Pilihan yang paling tepat adalah membeli perusahaan-perusahaan besar di harga diskon, waktu itu saya sempat ikutan menyerok ADRO, AALI, dan BBNI. Tentunya kita mengamati banyak kejadian, investor yang mulai masuk pada waktu tersebut menikmati bullish sampai Januari 2021. BBRI dari 2,000an jadi 4,700 dan mencetak banyak bagger.

Untuk sekarang, investasi di saham bluechip akan sangat membosankan, karena rata-rata sudah di harga wajarnya. Termasuk index investing yang di IDX 30 atau LQ 45, dimana saya telah redeem BNI IDX 30 setelah memanfaatkan momen pandemi lalu. Menurut hemat saya, investasi di bluechip IDX saat ini tidak menawarkan risk & reward yang menggiurkan.

Saat value terdepresiasi sebesar ~50% tentunya index investing / bluechip sangat menggiurkan, tapi saat market sudah di harga wajar seperti sekarang?

Saat ini saya sendiri masih berinvestasi saham di individual stock yang menurut saya kurang diapresiasi dan dihargai sangat murah. Kategori sektor yang saya masuki adalah cyclical stock. Saya banyak belajar dari para senior di forum Stockbit seperti Bang Thomas https://stockbit.com/#/thowilz yang banyak membahas saham-saham hidden gems dimana kebetulan pilihan saham kita cocok. Di tengah kondisi market yang masih labil dan masih akan stagnan atau bahkan turun karena kondisi ekonomi riil yang membaik tidak secepet estimasi, saya memutuskan menabur benih di emiten yang berpotensi mendapat apresiasi di masa depan dari kemampuannya mencetak laba dan menghasilkan cashflow. IHSG lagi galau begini soalnya.

Index investing

Dari beberapa buku dan tulisan para ahli personal finance, influencer contohnya dari buku yang barus saya selesai baca dari Morgan Housel yang berjudul Psychology of Money, 2 poin utama untuk mencapai kebebasan finansial adalah:

  1. Menjaga pengeluaran jauh di bawah pemasukan, sesuaikan gaya hidup di bawah pemasukan.
  2. Alokasi besar invest di index investing. Time in the market >> timing the market, use the compounding effect for sure.

Apa kelebihan index investing dibandingkan dengan individual stock investing? Mari kita coba lihat secara historis dan rasional dari sisi apa yang terjadi di kedua jenis investing tersebut.

Indeks Indonesia – IHSG

Performa 5 tahun terakhir Indeks LQ45, UNVR, BBRI

Performa 5 tahun terakhir:

LQ45: 7.24%

BBRI: 95.17%

UNVR: -36.10%

Sayang sekali untuk indeks pun masih memberikan return di bawah deposito, bahkan jauh dimakan laju inflasi. Technically, menabung di RDPU atau obligasi jelas menghasilkan imbal balik yang lebih baik. Apa yang menyebabkan indeks gabungan perusahaan-perusahaan kita tidak berkembang dan cenderung mandek? Saya membaca tulisan menarik dari bang skydrugz27 Pintasaham.id yang paling masuk akal untuk menjelaskan:

Sumber rephrase: Mengapa SP500 All Time High (ATH) Terus Sedangkan IHSG Mandek?

  1. Fundamental IHSG yang relatif belum membaik, refleksi di laporan keuangan FY 2020 dan Q1 2021, hanya beberapa perusahaan yang mampu kembali dan membaik performa keuangannya. Beberapa perusahaan yang mampu tumbuh adalah TLKM, TPIA, dan BBCA namun semuanya sudah di harga normalnya.
  2. Kuatnya indeks SP500 dan perusahaan di dalamnya dalam mencetak laba. Apple, Microsoft, Amazon, Facebook, Google dan lainnya adalah perusahaan yang mampu tumbuh dan mencetak laba di kondisi pandemi tahun lalu hingga layaknya market memberikan apresiasi dengan naiknya harga saham perusahaan tersebut.
  3. Untuk menabung saham dengan pertimbangan fundamental dan pertumbuhan perusahaan, saya lebih memilih indeks/ETF Dow Jones dan S&P500.

Indeks US

Performa S&P 500 NYSE 5 tahun terakhir

5 tahun terakhir, indeks S&P500 memberikan imbal balik 103.9% atau sekitar 20an% setahun. Bahkan lebih baik dari saham BBRI, bank BUMN terbesar Indonesia. Kontribusi utama adalah perusahaan-perusahaan market cap besar seperti Google yang terus tumbuh dan mencetak laba, ya selama kita masih jadi customer Youtube. Sayangnya di Indonesia belum ada perusahaan yang bisa mencetak laba dan bertumbuh pesat, setidaknya sampai sekarang. Kita masih nantikan pergeseran perusahaan market cap besar dari BBRI mungkin menjadi Tokopedia.

Bulan lalu saya mulai mencoba platform Gotrade untuk menabung bulanan di ETF NYSE – S&P 500, Russell 2000 dan iShares Low Carbon ETF. IHSG merupakan tempat menabur benih perusahaan bagus yang saat ini masih belum diapresiasi market.

Review saya untuk Gotrade: https://ronaldsukianto.com/review-gotrade-untuk-invest-saham-dan-etf-di-new-york-stock-exchange/

Gunakan kode token 021483 / 785491 / 503169 untuk mendaftar.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2021 Ronald Sukianto

2 Replies to “Jangan menabung saham di IDX”

    1. Hi pak Yosep, dari T&C yang ada, Gotrade diatur dalam hukum Malaysia dan menggunakan broker Alpaca yang berasal dari US. Resiko keamanan jika Gotrade tiba-tiba tutup atau kabur memang ada, dan semua dispute yang ada akan diatur dalam hukum Malaysia. Untuk broker Alpaca sendiri sudah teregistrasi di FINRA (Financial Industry Regulatory Authority). Untuk aspek keamanan dan hukum akan saya tuliskan di postingan terbaru ya agar semua bisa lebih terbayang konsep dari Gotrade sendiri yang hanya sebagai perantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *