Nonton Muaythai lokal langsung di stadium Rajadamdern Bangkok

Kalau ke Thailand pasti rasanya ingin merasakan budaya lokal setempat, entah itu kuliner lokal, pasar-pasar keramaian, tempat nongkrong lokal, ataupun Muay Thai. Setelah puas menjelajahi Chiang Mai dan Chiang Rai di utara, kami menuju tempat terakhir yaitu Bangkok sebelum terbang kembali ke Jakarta. Kebetulan karena Bangkok pusat keramaian, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba pengalaman tentang Muay Thai. Dua pilihan saat itu, ikut kurus Muay Thai atau menonton pertandingan Muay Thai. Karena pertimbangan biaya kursus yang mahal sekali, saya memutuskan untuk menonton pertandingan Muay Thai saja. Namun saya ingin menonton pertandingan Muay Thai yang “asli” bukan yang touristy di tempat-tempat seperti Asiatic atau tempat-tempat show yang menampilkan pertunjukan kabaret atau Muay Thai, alasannya saya ingin merasakan pengalaman asli dan semangat suatu pertandingan olahraga dalam satu stadium. Ibaratnya nonton pertandingan Derby London langsung di Wembely dibandingkan pertandingan liga persahabatan, pasti beda kan rasanya.

Untung ada Grab Bike

Hari itu hari kedua di Bangkok, hari Rabu 28 Desember 2021. Siang harinya kami berkeliling kuil-kuil turis, muter-muter di Chinatown untuk kulineran dan belanja sedikit oleh-oleh khas Thailand. Saat itu saya berburu kemeja gajah khas Thailand dan celana turis gombrong motif gajah. Lumayan lama berkeliling siang hari, saya kembali ke hotel untuk mandi dan berganti pakaian sebelum pergi ke stadium Rajadamdern untuk nonton pertandingan Muaythai pada jam 7 malam. Ternyata saya terlalu santai di hotel, sehingga waktu sudah hampir menunjukkan jam 6 sore.

Untungnya Thailand ada layanan ride hailing Grab, dan untungnya saya bisa langsung menggunakan dengan versi Grab yang saya gunakan di Indonesia. Tidak butuh waktu lama, saya memesan ojek motor untuk berangkat langsung menuju stadium di waktu pulang kerja yang ternyata sama macetnya dengan di Jakarta. Bangkok sangat mirip dengan Jakarta, kepadatan dan macetnya terutama.

Dengan gesitnya si abang Grab, saya berhasil sampai dalam waktu 20 menit sahaja! Hanya dengan 58 baht saya bisa berpindah tempat dengan cepat dan murah dibandingkan harus menggunakan taksi ataupun berpindah kereta dan bus. Khusus di Bangkok, kami tidak menyewa sepeda motor seperti yang kita lakukan di Chiang Mai dan Chiang Rai karena all in all untuk tranportasi akan lebih efisien dengan transportasi umum karena Bangkok sangat lengkap.

Beli tiket lokal – bukan versi turis

Sesampai di stadium, teman perjalanan saya dan teman warga Thailand lokal sudah mengantri untuk membelikan tiket untuk kami bertiga. Teman Thailand kami yang membelikan agar kita bisa dapat harga lokal, mengingat perbedaan harga turis dan lokal cukup besar. Walaupun pengunjung dari pertandingan malam itu 95% warga lokal, tapi mereka tetap menerapkan harga khusus untuk turis. Untungnya kami dibantu teman kami yang bisa mengakali dan membelikan tiket dengan harga normal.

Layaknya stadium di Indonesia, banyak tukang jajanan di luar stadium. Pad thai, nasi goreng Thailand, dan cemilan sangat menggoda saya. Sehingga sambil menunggu antrian beli tiket yang sangat ramai saya jajan es jeruk kelapa. Saya membayangkan akan betapa sulit bagi turis yang tidak bisa berbahasa lokal jika harus membeli tiket dan mengantri diantara ratusan warga lokal dimana petugas loket akan memberikan harga turis ke kami. Terima kasih Eeve telah membantu kami! Saran untuk menonton di stadium lokal dibanding di tempat turis juga tentunya dari dia.

Suasana dalam stadium

Stadium Muaythai berbentuk bundar dengan ring di tengah, dengan undakan tempat duduk penonton sesuai dengan kelasnya. Saat itu kami duduk di kelas paling murah yang duduk relatif di atas, namun masih sangat jelas melihat ring. Dari pintu masuk, kita akan melewati lorong-lorong tempat warga merokok yang dipenuhi bau asap dari awal sampai akhir pertandingan. Sambil mencari posisi PW, saya mengamati keramaian yang muncul disaat bandar judi mengumpulkan taruhan dan pedagang jus dan kacang-kacangan. Ternyata warga lokal ramai menonton bukan hanya untuk menikmati pertandingan namun juga menyalurkan hasrat berjudi.

Tidak lama menunggu, pertandingan dimulai dan semua warga lokal yang duduk di tribun tengah semua berdiri dan bersorak-sorak dengan ramai. Efek gema dari teriakan dan gemuruh penonton tersebut sungguh menggetarkan badan, saya suka sekali gemuruh dari penonton dalam pertandingan olahraga. Walaupun saya tidak yakin semangat tersebut disebabkan dari keseruan pertarungan antara atlet Muaythai atau dukungan untuk atlet yang dipegang dalam taruhan sebelumnya. Sungguh pengalaman ini sangat menarik untuk dirasakan, saya sangat menyarankan bagi pembaca untuk bisa menyempatkan menonton pertandingan ini langsung. Namun pastikan jadwalnya sesuai karena tidak setiap hari ada pertandingan Muaythai langsung.

Hidup dan karir petarung Muaythai

Tanpa tahu profil atlet petarung yang bertanding, saya sungguh menikmati semua pertandingan yang banyak. Mulai dari pertandingan pembuka antara atlet muda yang baru mulai berkarir sampai puncak acara tempat perebutan juara. Saya sangat menikmati pertandingan antara atlet muda, dimana mereka benar-benar bertarung sepenuh hati. Hal ini dapat dimengerti karena kemenangan sangat berarti untuk karir mereka dan gym Muaythai mereka. Beberapa layangan low kick cepat dan keras ditambah dengan hook cepat beberapa kali dipertunjukkan. Hampir semua bertanding dengan fokus dan tidak ada kemenangan KO pada hari itu. Kemenangan diperoleh oleh petarung yang paling banyak mendapat poin dari pukulan atau tendangan yang masuk ke badan lawan. Hal yang menarik dari Muaythai adalah gaya bertarung yang khas dan alunan musik saat bertarung yang entah kenapa sangat cocok dengan gerakan para atlet, apalagi ditambah dengan sorakan penonton saat satu tendangan masuk ke tubuh lawan.

Kami menonton sampai akhir dan beberapa penonton lokal mulai pulang dengan kecewa (mungkin karena gagal menang) dan sangat menikmati pertandingan hari itu. Cukup larut juga saat itu, sekitar pukul 10an malam dan kami memutuskan kembali ke hotel menggunakan taksi.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2021 Ronald Sukianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *