Pengalaman Pertama Beli Saham eIPO 2021

1. Perdana ikutan proses book building, allotment sampai pencatatan perdana di BEI untuk saham ARCI.
2. Mitos saham IPO dari sisi bandarmology dan pertimbangan rasional.
3. Saya melepas semua pegangan pada hari pertama (2 Juni 2021), di posisi +10% karena pengendali keluar secara besar-besaran dan ARA gagal didapatkan.
Disclaimer: tulisan disini hanya opini pribadi dan pengalaman dalam proses eIPO, tidak merepresentasikan nilai dari saham ARCI.

Alasan beli saham eIPO

Proses IPO merupakan proses yang paling misterius bagi saya. Secara teknis, saya mengerti apa itu IPO namun latar belakang dan motif utama pihak pengendali terhadap saham tetap meninggalkan tanda tanya besar bagi saya. Dalam ilmu bandarmology / money flow sendiri saham IPO hampir selalu menjadi kontroversial saat pencatatan perdananya. Yang paling hangat adalah saham baru IPO DCII yang sudah naik puluhan ribu persen atau LUCY yang naik sebentar lalu terjun layaknya roller coaster. Memiliki saham IPO akan terasa menegangkan, karena pihak pengendali yang memegang kendali sepenuhnya akan dibawa kemana arah pergerakan harga. Saham baru IPO akan dimiliki segelintir pihak yang tentunya memiliki tujuan masing-masing. Namun kenapa saya membeli saham IPO? Untuk menjawab rasa penasaran saya untuk merasakan langsung proses dari awal sampai harga diajak naik turun seperti di wahana Dufan.

Broker yang digunakan

Berikut pengalaman yang saya alami di eIPO ARCI menggunakan sekuritas Sinarmas (kode DH). Untuk membatasi resiko, saya hanya membeli sebanyak 20 lot sejumlah satu juta lima ratus ribu Rupiah. Toh tujuan saya untuk proses belajar dan lebih ke iseng-iseng.

Proses mengikuti proses eIPO

  1. Daftar di halaman daring http://e-ipo.co.id.
  2. Setelah terdaftar, koneksikan akunmu dengan akun sekuritas. Contoh untuk saya, dikonekan dengan akun Sinarmas.
  3. Di halaman utama, akan terlihat eIPO yang sedang berlangsung (dalam tahap masing-masing dan tanggalnya).
  4. Proses sendiri dibagi menjadi: Pre-effective -> Book building -> Offer -> Confirmation -> Allotment (penjatahan) -> Pencatatan perdana.
  5. Perhatikan bahwa tidak semua saham IPO akan melalui proses eIPO! Secara rasional, saham yang ditawarkan lewat eIPO memang ditujukan kepada investor retail yang membeli secara kolektif. Kita perlu curiga jika seluruh saham diberikan kepada retail pada proses penjatahan (allotment), yang artinya dari awal tujuannya memang didistribusikan kepada retail. Kita sebagai investor retail tidak punya kendali disini, hanya berharap “ikutan” arah kemana pengendali membawa.
  6. Contoh untuk saham ARCI, harga offer ditentukan di level 750 Rupiah per lembar. Saya melakukan penawaran untuk 20 lot namun hanya dapat jatah 15 lot di tahap allotment.
  7. Saat proses book building, confirmation, dan allotement dana wajib tersedia di RDN. Jika tidak, akan ada notifikasi dari sekuritas bahwa transaksi gagal dilakukan.
  8. Setelah dapat jatah, tinggal menunggu pencatatan perdana di BEI dan menikmati gejolak awal saham IPO.
Submission saya sempat di reject karena dana tidak cukup di RDN

Membeli saham IPO memang bukan mainan retail yang bertujuan ingin untung cepat dan banyak, karena apapun yang kita pikirkan pasti akan ada yang lebih cerdas dan punya kontrol lebih yang akan membuat skenario pergerakan harga tidak sesuai keinginan. Namun, saham ARCI ini merupakan saham yang memiliki fundamental jelas dan bisnis yang sudah menghasilkan cashflow jadi jangan terlalu ambil pusing jika pembaca memang berniat investasi di saham ini. Semoga tulisan singkat saya dapat memberikan gambaran tentang proses pembelian saham melalui eIPO.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2021 Ronald Sukianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *