Fenomena pompom saham – bagaimana menghindarinya?

“Abis kena pompom di saham FILM nih, jadi kena cuci piring nyangkut deh di harga tinggi. Kapan dinaikin lagi ya?”

“Gw join di group premium nih, aman dari pompom, karena justru kita yang ngepompom orang lain jadi bisa jual harga tinggi. Kita udah ngumpulin duluan di harga bawah, dikoordinir sama yang punya group berbayar.”

“Koin DOGE baru saya sebut di group, sudah +13% dalam sejam. To the moon!”

Pompom / pomp-pomp / pump & dump adalah slang yang sering ditemui dalam market saham ataupun crypto yang sedang booming belakangan ini. Pompom adalah aktivitas mempromosikan suatu emiten atau koin tertentu dengan narasi yang sudah dirancang untuk membuat confirmity bias dan herding mentality bagi para pengikut/pembaca yang memiliki tujuan akhir untuk menaikan harga. Pompom diambil dari kata pompom girls atau yang dikenal sebagai cheerleaders yang bersorak-sorak untuk mendukung atlet bertanding, hanya dari pinggir lapangan.

Tujuan saya menulis ini untuk mengingatkan pembaca agar tidak sampai terjebak dengan pompoman saham ataupun crypto ataupun investasi lainnya yang dipromosikan secara belebihan.

Disclaimer: tulisan ini saya buat untuk menjawab keresahan pribadi saya melihat fenomena pompom saham dan koin crypto yang terjadi belakangan ini, bukan untuk menyudutkan pihak tertentu sehingga semua contoh disini adalah kasus historis untuk ilustrasi semata tanpa merujuk ke pihak tertentu. Harapan saya, para pembaca dapat berpikir lebih kritis dan rasional dalam mengikuti keputusan berinvestasi / membeli suatu emiten atau koin dalam market dan tidak kehilangan uang yang sudah susah-susah dikumpulkan.

Fenomena grup premium berbayar pompom

Pandemi COVID19 melahirkan generasi baru investor saham selama 2020 dengan pertumbuhan hampir 50% YoY. Pemberitaan media dan konten media sosial mulai dari Instagram dan Youtube mulai didominasi oleh update market dan berita saham, memanfaatkan momentum kenaikan indeks saham dari market crash bulan Maret 2020. Saya sendiri adalah investor generasi 2019, mulai masuk market sesaat sebelum krisis Jiwasraya dan beberapa reksa dana yang terkena kasus jadi saya merasakan seluruh perjalanan. Mulai dari kepanikan di Maret 2020 sampai munculnya influencer baru saat rebound market, termasuk yang paling mencolok adalah puluhan grup Telegram mulai dari yang gratis dan berbayar. Sebagai pemula dalam masa belajar di market, saya sempat bergabung di beberapa grup diskusi mulai dari yang mengajarkan teori dasar fundamental, teknikal, dan bandarmologi. Saya sudah tidak bergabung di sebagian besar grup tersebut, karena distorsi dan overflooding informasi yang ada – dan kecenderungan eksklusivitas dalam grup menjadi anggota premium dan non-premium. Saat ini saya masih belajar di beberapa grup saham yang cocok dengan saya, dimana kita bisa saling belajar antar anggota lain tanpa dipengaruhi informasi yang berbau kepentingan.

Yang paling menarik adalah grup premium yang eksklusif, harus membayar biaya sekian juta Rupiah untuk bergabung dalam grup Telegram yang biasanya mendapat stockpick pilihan saham yang akan diprediksi akan naik. Sebelum lebih jauh membahas, saya ingin memberikan disparitas antara grup premium dan seminar/kursus berbayar. Pandangan saya netral terhadap seminar-seminar berbayar ataupun workshop berbayar tentang investasi atau saham, saya sendiri adalah pengguna/customer dari workshop berbayar.

Menurut saya sangat fair untuk menarik iuran/biaya untuk suatu informasi/wawasan dalam bentuk kurikulum atau pelajaran, toh dari SD sampai kuliah kita juga membayar untuk belajar. Biaya tersebut diibaratkan biaya ganti waktu dan tenaga yang dikeluarkan tim untuk merangkum dan membuat materi seefisien dan terstruktur mungkin agar pembelajaran semakin cepat. Jika kita belum punya uang untuk ikut workshop, masih bisa belajar kok dari resource-resource gratis di internet.

Kenapa banyak yang bikin grup berbayar?

1. Tambahan penghasilan

Grup premium yang setahu saya paling populer – berisi puluhan ribu orang yang membayar sekitar 1 juta setiap bulan. Jika ada 2 ribu orang anggota aktif yang membayar saja untuk satu bulan, omzet dari owner dalam bulan tersebut 2 milyar Rupiah. Daripada jadi trader yang harus riset dan mengambil resiko untuk mendapat reward beberapa persen capital gain, lebih enak jadi owner grup berbayar dong! CEO perusahaan energi multinasional saja tidak sebanyak itu loh gajinya, padahal pressure yang dihadapi sangat besar.

Saya netral terhadap grup berbayar – ini adalah imbalan jasa terhadap stockpick yang dilakukan orang lain. Semua member grup berbayar pun sadar akan ini, karena seharusnya ini ada dalam disclaimer bahwa keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing dan saran dalam grup tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya karena adalah prediksi dan saran. Yang saya ingin fokuskan adalah grup pompom baik itu berbayar atupun tidak.

2. Menggerakan sesuatu dengan kekuatan masa

Bagaimana harga saham digerakkan?

Harga digerakkan oleh permintaan (demand) yang melebihi supply. Jika banyak yang ingin membeli dengan hajar kanan di offer tentunya harga akan naik, terlebih di saham-saham murah dengan market cap kecil yang dapat digerakaan dengan dana beberapa milyar saja. Beda dengan BBCA yang untuk memakan satu tick saja butuh puluhan milyar. Secara singkat, fenomena pompom ini menggunakan euforia, menjual harapan, dan FOMO dari para pembeli dengan bermacam narasi. Ada yang melalui alasan fundamental, teknikal ataupun alasan yang tidak masuk akal seperti tweet Elon Musk tentang dogecoin. Intinya narasi tersebut dibuat untuk meyakinkan bahwa barang tersebut harus segera dibeli. Untuk membuat antrian beli semakin banyak, maka diperlukan semakin banyak orang yang memakan narasi yang dibuat.

Semakin banyak orang di dalam grup, semakin mudah untuk membuat pasukan. Saya yakin setiap grup memiliki tujuan masing-masing yang baik tapi mungkin ada yang tidak baik. Tentunya kita tidak ingin dijadikan pasukan yang digunakan untuk memakan offer antrian dengan HAKA untuk memakan lot saham sang pompomers – setelah harga dinaikan dan kita disetir dengan bensin FOMO dan greed untuk untung besar dengan cepat. Biasanya pompom malah meninggalkan banyak korban dan pasukan sakit hati – nyangkut di harga tinggi setelah makan barang pompomers yang sudah kenyang dapat capital gain karena price yang di pump dengan tentara bayaran.

Sudah bayar iuran bulanan, masih mau digunakan sebagai “tentara perang” supaya harga naik?

For further reference, please read about herd mentality bias.

Kita aman kok – kan kita sudah naik duluan di kereta

Pembelaan paling umum adalah: gak kok, kita aman karena nanti barang kita dimakan sama orang lain yang tidak ikutan grup. Anggota grup kita dapat info duluan sebelum harga loncat, nanti bisa jual di harga atas jadi gak perlu cuci piring deh..

Jika kamu berpikiran seperti ini, berhati-hatilah karena kemungkinan untuk terjebak dalam confirmation bias. Kita akan cenderung mepercayai sesuatu berdasarkan informasi yang mendukung kepercayaan kita, mengabaikan informasi lain yang perlu kita hadirkan.

yang nyangkut KAEF gak bisa keluar kena ARB minimal rugi 35%, padahal dipompom karena vaksin sudah masuk, toh harga terjun bebas di hari Pak Jokowi disuntik.

Terlepas dari siapa yang lebih rugi, mungkin memang akan ada yang lebih rugi dari anggota grup premium yang membeli lebih akhir saat barang sudah didistribusikan dan harga sudah di pucuk. Tapi yang paling saya yakinkan adalah orang pertama yang naik kereta (pompomers) adalah yang paling diuntungkan. Dalam kasus KAEF diatas, yagn untung yang ngumpulin KAEF dari harga 1000an, dibantu pompom bisa naikan harga ke 7000! Di saham KAEF ini banyak melahirkan milyarder karena saya sering lihat screencapt untung ratusan persen di KAEF, tapi yang nyangkut juga banyak sih. Jangan sampai teman-teman masuk yang golongan nyangkut ya.

Menjadi skeptis

Every man is, no doubt, by nature, first and principally recommended to his own care; and as he is fitter to take care of himself than of any other person, it is fit and right that it should be so – Adam Smith, theory of moral sentiments.

Dalam menerima informasi, belajarlah untuk menjadi skeptis dan mengacu jika setiap orang punya kepentingannya masing-masing. Selalu saring dan berpikir sebelum mengambil keputusan, ketika menerima informasi yang bersifat persuasif. Adakah kepentingan di balik ini?

Informasi yang diberikan secara gratis untuk saham yang akan naik – pikirkan kembali apa motif utama yang menguntungkan pihak pemberi informasi tersebut? There is no such thing of free lunch.

Khusus followers saya dan anggota terbatas grup Telegram kita akan bocorkan koin/saham yang akan naik ++50% dalam sejam, kita pump bersama-sama dan semua akan kebagian – ya mungkin akan di pump, tapi yang enak yang sudah masuk duluan. Majikan sudah naik di kereta, para buruh diberikan semangat ayo kita kerja keras bersama mencapai kota dengan cara didorong bersama-sama. Saat sampai di kota tujuan, majikan turun duluan. Para buruh mungkin ada yang kehabisan tenaga atau bahkan tertinggal.

Menjadi skeptis di market, mungkin akan membantu kalian untuk survive di market yang kejam.

Bursa saham adalah tempat adu sabar, adu pintar, dan adu modal. – Pepatah suatu admin grup Telegram

Semoga semua sehat dan tetap rasional dalam market ya, teman-teman investor dapat mencapai yang dicita-citakan dari investasi dan jangan sampai terjebak dalam pompom.

Cheers.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2021 Ronald Sukianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *