Untuk menjadi pria berpenampilan menarik, apakah potongan rambut itu kunci utama? Apa bedanya potong rambut di barber shop mall Pondok Indah dengan di barber shop 30 ribuan? Tulisan ini berisi pemikiran saya tentang sedikit industri grooming pria dan seberapa pengaruhnya potongan rambut ke kegantengan seseorang.

Bulan Februari 2020, saat itu saya masih tinggal di Banjarmasin karena pekerjaan. Hari Sabtu adalah hari libur, biasanya saya isi dengan bersantai di kosan dan olahraga di pusat kebugaran kosan. Karena rambut sudah cukup panjang, saya memutuskan ingin potong rambut toh mumpung banyak waktu lowong di hari Sabtu. Sekitar 300 meter dari kosan, ketemu satu barber shop rumahan yang saya datangi dan minta dipotong rambut ditambah keramas. Sambil berbincang tentang sang barber yang ternyata pernah lama bekerja di Jakarta Selatan sebagai barber dan juga Surabaya, saya minta rambut dipotong dengan model pendek samping dan tipis atas. Alangkah kagetnya saya saat membayar, ongkos potong dan cuci sebesar 25 ribu Rupiah.

Tahun 2019 saat saya masih bolak balik Jakarta dan Banjarmasin, saya sempat potong rambut di Barber shop Barberbar di basement PIM. Ongkos potong dan cuci sekitar 120 ribu Rupiah. Jadi, satu kali potong di Barberbar saya bisa potong 5 kali di Barber rumahan. Apalagi di tukang cukur kursi lipat bawah pohon yang harganya 15 ribu Rupiah, bisa untuk setahun cukur itu.

Industri potong rambut pria

Industri cukur pria mulai tumbuh dan populer mulai dari tahun 2010an, saat itu market pria yang ingin membayar lebih dari 50 ribu Rupiah untuk jasa potong rambut dan cuci (+ pijat pundak) mulai terbentuk. Karena potong rambut pria sendiri lebih dari sekadar memotong rambut menjadi lebih rapi, tapi jauh ke rasa kepuasan. Rasa bersih, rasa rileks, persepsi penampilan yang lebih menarik setelah melewati 30 menit yang santai dengan barber memang menjadi momen yang dikangeni oleh para pria. Bonus jika memang model rambut yang baru membuat penampilan jadi lebih menarik, potong rambut selalu menjadi momen yang kita tunggu setiap 2 bulan (atau 1 bulan).

Tahun 2015an, produk tambahan grooming seperti pomade, clay, wax, mud, hairspray ikut populer. Market yang menjanjikan membuat beraneka merek muncul dan berkompetisi, membentuk tren pria-pria klimis dengan rambut yang ditata dengan apik. Sampai sekarang industri grooming pria dan turunannya terus tumbuh dengan baik. Memang untuk produk populer (harga > 50 ribu Rupiah) masih eksklusif untuk kalangan menengah ke atas di kota-kota besar, tapi banyaknya barber shop baru menunjukkan betapa menjanjikannya bisnis ini. Kalangan milenial dan golongan ekonomi menengah Indonesia terus tumbuh, begitu juga potensi di market ini.

Hairnerds Studio, salah satu usaha potong rambut yang mampu menggunakan sosial media dan marketing yang baik adalah contohnya. Foundernya, adalah eks bankir yang memutuskan terjun full time menjadi pengusaha barber dan hair styling expert. Artinya, bisnis ini jauh lebih menguntungkan daripada kerja kantoran toh.

Kenapa harus potong di tempat mahal?

Senin kemarin, saya potong rambut di Barber Lanang dekat rumah. Ongkos potong 30 ribu Rupiah tanpa cuci dan sebaginya, hanya potong. Cocok dengan tujuan awal saya, potong rambut cepat model cepak pendek biar rapi seperti anak sekolahan. Saya memang sedang senang potong rambut pendek karena low maintenance dan tidak mengganggu saat olahraga. Beberapa tahun lalu masih tahan dengan model rambut panjang dengan poni ala Korea, bahkan sempat mencoba perm. Alasan terakhir sebenarnya karena membiasakan gaya hidup frugal

Prinsip yang saya anut adalah “Kalau orang menarik, mau gimanapun pasti tetap kelihatan menarik terlepas merek baju dan model rambuntya. Sebaliknya, orang kurang menarik mau diapakan pun tetap segitu-gitu saja.” Bercanda ya, tapi poin yang saya anut adalah sesuaikan membeli barang atau jasa sesuai dengan kemampuan dan value yang bisa kita dapatkan. Tapi apakah bedanya potong rambut di mall dan di bawah pohon rindang?

Jawaban itu saya dapat dari pasangan saya sendiri. Dia komen kok yang ini agak beda, kurang simetris juga antara sisi kiri dan kanan. Bagusan yang dulu itu loh tahun lalu (Barber Bar 100 ribuan). Padahal permintaan saya ke tukang cukurnya sama saja, potong pendek samping dan tengah rapi poni diangkat. Baru setelah komen dia, saya sadar potongannya tidak rata kiri dan kanan. Sebelum menulis ini, saya sempatkan potong rambut saya sendiri menggunakan gunting biar lebih rata. Ada harga, ada kualitas. Jika kamu memperdulikan penampilan yang harus tampil prima setiap minggu bahkan rela pergi ke barber shop setiap dua minggu mungkin kamu tidak keberatan membayar 100 ribu untuk jasa potong. Bagi saya, barber jauh dari sekadar potong rambut melainan juga kepuasan hati dan rileksasi. Untuk saat ini di masa pandemi, saya harus bersabar dengan potong cepak murah dan cepat sambil menunggu kondisi keuangan lebih baik untuk bisa menikmati jasa barber premium.

Untuk yang juga menganut prinsip hidup frugal, apakah apa yang kamu bayarkan untuk jasa potong rambut sebanding dengan kepuasan yang kamu dapatkan?

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 Ronald Sukainto
You cannot copy content of this page