Satu tahun belakangan ini, saya sering mengalami sakit akut di sistem pencernaan. Sehabis makan saya seringkali jadi lethargic dan juga lemas seharian. Memang porsi makan saya seringkali lebih banyak dari porsi orang normal kebanyakan, walaupun kondisinya adalah sehabis berolahraga yang cukup intens. Beberapa kali saya konsultasi ke dokter umum dan dokter spesialis pencernaan, saya didiagnosis menderita GERD (Gastro Esofagial Reflux Disease) dan Gastritis. Kondisi paling parah adalah saat saya makan beberapa makanan jenis tertentu sampai timbul alergi 1-2 jam setelah makan. Temperatur badan naik, muncul biduran, dan rasa nyeri di bagian yang muncul biduran. Biasanya reaksi muncul setelah makan daging kambing, sapi, atau makanan laut seperti kepiting dan udang.

Saya sempat melakukan test alergi di Prodia, dan hasilnya menunjukkan tidak ada alergi spesifik yang cukup parah. Paling tinggi adalah alergi terhadap jenis kerang yang pada dasarnya saya jarang sekali konsumsi. Terlalu sering mengalami alergi, saya bergantung dengan obat antihistamin untuk menghilangkan gejala alergi namun akibatnya saya sering lemas dan stamina turun. Dokter yang saya kunjungi hampir semua hanya memberikan solusi pengobatan lambung melalui obat protont pump inhibitor yang mengurangi sekresi asam lambung. Untuk jangka waktu satu hari bisa membantu namun saya terus mengalami masalah yang sama. Saya tidak ingin ini terjadi terus ke depannya, sehingga saya mencari akar permasalahan dari penyakit saya ini.

Inspirasi dari penyakit, podcast dan film The Game Changer

Di sela-sela waktu saya menyetir menuju tempat kerja, saya sering mendengar podcast atau video Youtube. Suatu ketika saya mendengar salah satu episode di Podcast Thirty Days of Lunch yang berbicara tentang veganism. Narasumber bercerita tentang kenapa mereka menjadi vegan, didasari dari penyakit autoimmune yang diderita sedari dulu sehingga menggangu kehidupan normal. Berceritalah dia mengenai bagaimana daging dan protein hewani menggangu sistem imunitas melalui pencernaan manusia. Dari situ saya mulai berpikir, apa penyakit saya ini juga dikerenakan konsumsi daging yang berlebihan?

Saat umur 15 tahun, saya mengkonsumsi susu sapi murni setiap pagi sebagai sarapan. Saya sempat menderita gastritis yang didiagnosa dokter kareka konsumsi susu sapi. Saat itu dokter melarang saya minum susu sapi, dia berucap “susu sapi itu untuk anak sapi, kamu kan bukan sapi”. Sejak saat itu saya tidak pernah mengkonsumsi susu sapi lagi, namun masih kadang-kadang minum susu sekali-kali, makan eskrim, yoghurt, dan makan keju. Apakah itu pertanda memang saya tidak bisa mengkonsumsi susu sapi dan produk turunannya? Memang kalau makan keju berlebihan, saya akan crash dan naik kadar kolesterolnya. Harusnya saya sadar bahwa itu respons tubuh saya bahwa saya tidak bisa konsumsi produk susu sapi dan turunannya.

Di waktu yang bersamaan juga, di awal tahun 2020 komunitas Indonesian Spartans sempat mendiskusikan satu film yang bernama The Game Changer. Intinya film itu mencoba bercerita melalui pola pikir terbalik tentang penyakit dan pola makan kita sebagai omnivor. Mengapa penyakit manusia sekarang kebanyakan dari penyakit metabolisme (kolesterol tinggi, diabetes), mengupas struktur gigi manusia yang sebenarnya tidak didesain untuk memakan daging, bahkan memberi contoh langsung untuk membantah bahwa vegan membuat tubuh lemah karena tubuh kita butuh protein. Atlet angkat beban dan beberapa pelari jarak jauh sempat membagikan kisah mereka. Saya jadi mendapatkan inspirasi untuk mengubah pola makan saya menjadi vegan.

Vegetarian dalam pandangan hidup saya

Saya dulu bersekolah di Sekolah Buddhist yang mengajarkan untuk tidak membunuh makhluk hidup. Saya dulu memang sempat berpikir untuk menjadi vegetarian dan saat itu ada dua hal yang menghambat saya. Yang pertama, industri daging ini yang sudah mendunia. Akan sulit merubah pola makan saya karena pola makan vegetarian atau plant based diet bukan hal normal, restoran pun sudah terbiasa menyajikan makanan berdasar daging. Saya versi remaja saat itu berpikir, saya jadi vegetarian pun akan tetap banyak binatang yang dibunuh karena ini sudah menjadi industri.

Yang kedua, saya takut kekurangan gizi karena protein hewani adalah protein terbaik untuk membangun tubuh. *Saya juga sempat mengkonsumsi Whey protein untuk suplemen fitness yang juga menggangu sistem pencernaan saya. Saya akhirnya berhenti mengkonsumsi susu dan turunan nya secara total. Hal ini dapat dipatahkan dengan penelitian bahwa protein nabati juga bisa didapat dari makanan Indonesia seperti tempe dan tahu. Memang banyak perdebatan juga bahwa kadar isoflavon yang tinggi di kedelai akan meningkatkan hormon estrogen yang berakibat ke ketidak seimbangan hormon kita.

Alasan paling egotistical

Bulan April 2020, saya mulai pola makan vegan total. Setiap hari saya hanya makan sayur, tempe, tahu, dan stop total konsumsi susu sapi dan turunannya. Sekitar 7 hari melakukan itu, saya merasa tubuh saya lebih ringan dan pencernaan makin lancar. Tidur saya juga lebih nyenyak dan metabolisme lebih baik. Alergi saya sudah hilang dan stamina saya berangsur membaik.

Namun setelah mencoba jadi vegan, saya merasakan pikiran saya sering merasa cemas tiba-tiba. Terutama saat saya mengkonsumsi susu kedelai secara berlebihan. Saya coba riset dan menemukan korelasi antara kedelai dan hormon estrogen. Di bulan Juni akhirnya saya mencoba konsumsi daging ikan dan ayam kadang-kadang. Tidak ada perubahan signifikan yang saya alami, sama seperti saat masih vegan total. Saya sudah tidak mengkonsumsi daging merah: babi, kambing, dan sapi total.

Kolesterol total saya sekarang rata-rata di 150, padahal tahun lalu masih di level 190-200. Selain daging merah, saya juga sudah stop konsumsi seafood selain ikan. Saya merasa lebih baik, namun untuk menjadi vegan total saya masih belum sanggup. Saat ini saya mengurangi benar-benar konsumsi daging ayam dan ikan, bukan lagi masuk dalam diet harian namun makanan cheat day yang bisa saya konsumsi. Walau restoran vegetarian sudah mulai banyak di Jakarta namun terkadang kita ada di situasi yang tidak bisa memilih makanan.

Sistem penceraan saya juga lebih baik, jauh lebih baik setelah tidak mengkonsumsi daging merah. Alergi sudah tidak pernah datang dan tidak pernah crash lagi seperti dulu sehabis makan daging steak atau sate kambing. Tapi terkadang saat makan ayam goreng (yang lemaknya banyak) , perut saya akan tidak beres selama sehari penuh.

Sampai sekarang saya sadar bahwa manusia memang harus lebih banyak makan sayur hijau dan mengurangi konsumsi daging. Ke depannya, saya akan lebih banyak mengkonsumsi jenis-jenis sayuran dan umbi-umbian. Serta buah-buahan atau sop kacang hijau sebagai makanan snack. Ini adalah perjalanan saya mencari diet yang sesuai dengan saya, dan saya rasa pengurangan konsumsi daging dan perbanyak sayuran ini cocok dengan saya. Memang berat untuk stop konsumsi keju dan susu sapi tapi ini demi kesehatan saya sendiri.

Bagaimana pengalaman diet kamu? Semoga semua sehat selalu.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 Ronald Sukainto
You cannot copy content of this page