Sedang mempertimbangkan membeli smartwatch? Mengapa wearables adalah investasi yang tepat

Update: Saya baru mengganti Garmin vivoactive 3 Music yang sudah berumur setahun lebih (rusak karena kaca pecah akibat jatuh dari meja setinggi 1 meter) dengan Garmin Instict Tactical non solar.

Memutuskan membeli Garmin Instict untuk jam outdoor yang lebih bandel dan kuat, walaupun minus fitur seperti VO2max, saturasi oxygen, dan music player. Sepanjang 3 bulan pemakaian, saya puas dengan Garmin Instict.

Mengapa untuk barang yang satu ini saya rela mengeluarkan kocek lebih ? Berikut tulisan yang coba saya bagi untuk memberikan perspektif kepada pembaca – tanpa promosi karena semua yang saya tulis disini adalah opini dan pengalaman pribadi.

Penggunaan smartwatch untuk monitor sehari-hari, tracking olahraga seperti hiking, lari, trail run, dan petunjuk jalan GPS.

Pernahkah kamu membeli barang yang cukup menguras isi kantong atau bahkan kantongmu? Sebagai seseorang yang coba menjalankan gaya hidup frugal di tahun 2020, tahun 2019 merupakan tahun dimana saya banyak melakukan pengeluaran mulai dari pembelian barang yang esensial sampai yang trivial bahkan lupa bahwa saya membeli barang tersebut. Pada tulisan ini, saya akan coba mempengaruhi kamu untuk mempertimbangkan barang yang menurut saya menjadi barang esensial di era digital kini.

Investasi pria di jam tangan

Banyak pria mengoleksi jam tangan sebagai identitas, barang koleksi yang menarik, ataupun sebagai alat yang berguna untuk menunjukkan waktu. Sayangnya pilihan terakhir sudah tidak terlalu valid karena peran tersebut sudah digantikan oleh telepon genggam. Setidaknya seorang pria memiliki satu buah jam tangan sebagai aksesoris untuk digunakan pada acara formal, untuk menambah kesan profesional ataupun smart dari penampilan kita. Bagi para pria yang bekerja di bidang yang mementingkan penampilan tentunya relevan dengan hal ini kan?

Pengetahuan saya mengenai jam tangan dimulai di dunia kerja, dimana banyak ilmu yang saya dapatkan dari mereka. Jam tangan sebagai status, jam tangan yang awet, jam tangan yang classy, dan panduan memilih jam tangan untuk first timer saya pelajari saat itu. Saya yang memang bukan penggemar jam tangan akhirnya memutuskan untuk membeli satu buah jam tangan untuk keperluan pekerjaan, saat itu pekerjaan saya sedikit banyak menuntut untuk berpenampilan resmi karena banyak bertemu dengan eksternal. Saya membeli satu buah jam tangan merek Daniel Wellington yang menurut saya cukup simpel dan menarik, ditambah dengan kuatnya branding DW di media sosial yang membuat saya terpengaruh. Dengan mahar yang cukup mahal bagi pembeli jam pertama kali saya tebus jam tersebut, dan saya mulai menggunakan jam tangan sehari-hari. Saya tidak suka menggunakan jam tangan! Tidak nyaman sekali rasanya. Sayangnya jam tangan tipe tersebut tidak tahan air dan tidak dapat digunakan sambil berkegiatan olahraga, yang rutin saya lakukan. Akhirnya saya pakai jam tangan itu beberapa bulan dan saya berikan ke adik saya.

Teknologi wearables

Saya pertama kali mengenal teknologi wearables dari komunitas olahraga Indonesian Spartans, komunitas lari halang rintang atau obstacle race yang belokasi di Jakarta. Saya bergabung bulan Maret di IS dan mulai mengenal teknologi wearables smartwatch yang dipakai saat berolahraga. Saya dulu sempat beberapa kali mengikuti event lari dan mini triathlon, namun saya kurang familiar dengan konsep jam tangan pintar ini. Setelah bergabung dengan komunitas, saya mulai banyak mengenal kelebihan dari teknologi tersebut dan manfaatnya bagi para penggiat olahraga.

Teknologi wearables adalah teknologi yang digunakan manusia, berkontak dengan permukaan kulit untuk memberikan sinyal dan informasi tentang keadaan tubuh; baik itu berupa detak jantung, temperatur tubuh, tekanan darah, dan bahkan level saturasi oksigen. Yang terakhir cukup populer sekarang karena COVID ya.

Pertimbangan saya waktu membeli jam tangan pintar adalah untuk melacak dan meningkatkan performa saya dalam berolahraga. Dalam olahraga lari halang rintang tersebut, kunci utama adalah stamina berlari yang paling dibutuhkan untuk menyelesaikan lomba secepat mungkin. Hal tersebut dapat diperoleh dengan perlahan-lahan meningkatkan stamina berlari. Sebelumnya saya tidak pernah merancang program lari dan hanya berlari seadanya sesuai dengan kemauan saya, dan untuk meningkatkan performa kita perlu mengikuti program yang disiplin. Biasanya untuk meningkatkan daya tahan, progam lari yang dilakukan adalah konstan dengan menjaga detak jantung di level tertentu. Tujuannya untuk mebiasakan otot jantung kita di kondisi tersebut yang kemudian akan kita tingkatkan perlahan-lahan dengan kondisi yang lebih berat. Dengan teknologi wearables tentunya monitor kondisi tersebut akan lebih mudah dilakukan.

Sampai dimana batasmu?

Tiga hal utama yang dapat kamu monitor di wearables level menengah adalah detak jantung, siklus tidur, dan tingkat stres. Teknologi yang lebih kompleks bahkan dapat mengukur saturasi oksigen kita loh! Lagi populer ya ukur saturasi oksigen karena efek COVID yang biasanya menurunkan kadar oksigen dalam darah akibat kinerja paru-paru yang terganggu untuk menyerap oksigen ke darah kita. Mengapa tiga parameter tersebut?

1. Detak jantung atau heart rate

Detak jantung merupakan parameter utama yang biasa digunakan sebagai benchmark kemampuan/performa badan dalam berolahraga. Dalam olahraga aerobic seperti lari, terkadang detak jantung digunakan sebagai batas maksimal yang dicapai untuk memastikan batas kemampuan kita tidak dipaksa ditembus. Semakin sedikit effort yang dibutuhkan tubuh, semakin rendah detak jantung. Detak jantung istirahat para atlet sangat rendah dibandingkan dengan orang biasa, yang artinya batas ambang fisik yang dilakukan akan berbeda antara seorang atlet dan orang kantoran. Bagi mereka lari 5 kilometer dengan pace 5 mungkin adalah pemanasan, yang bagi saya adalah siksaan badan ke zona detak jantung 5 (maksimal).

2. Siklus tidur

Pernah merasa tidur sudah cukup lama namun tidak segar di pagi hari? Kamu bisa perhatikan apakah kamu mendapat tidur yang berkualitas? Teknologi sudah cukup pintar untuk mengukur jenis tidurmu dalam semalam: REM, light, atau deep sleep yang akan berpengaruh ke kualitas tidurmu. Sepengetahuan saya, deep sleep dibutuhkan untuk charge tubuh dan otak. Jika jumlahnya kurang, maka tubuh akan terasa lemas dan tidak maksimal.

3. Tingkat stres

Pengukuran stress masih cukup relatif, sepemahaman saya jam akan mengukur dengan parameter biologis tubuh jadi olahraga akan diukur sebagai stress (karena menekan tubuh). Namun terkadang stress non fisik pun dapat diukur, terkadang saya dapat melihat betapa meeting yang stressful akan menandakan pengukuran stress yang tinggi.

Pertimbangan

Jika kamu sedang mempertimbangkan untuk membeli smartwatch untuk harian, pastikan pertimbangan ini dipikirkan (dari paling penting):

  1. Kegunaan dan fitur. Jika kamu tidak akan menggunakan fitur tersebut, tidak usah dibeli. Contoh jika kamu bukan sport enthusiast yang mengukur performa VO2 max secara berkala, kamu tidak perlu membeli Garmin series yang lengkap dengan VO2 max.
  2. Trade-off harga dan kualitas (serta aftersales service). Review dapat didapatkan di Youtube, pastikan kamu tahu seberapa baik merek memberikan pelayanan purna jual. Untuk GARMIN: TAM cukup baik.
  3. Penampilan. Jika kamu bukan penggemar outdoor tentunya jam tangan gaya militer seperti Garmin Instict tidak akan cocok. Jika kamu adalah karyawan kantoran yang memadukan outfit dengan jam tangan cantik tentuny Garmin Instict bukan pilihan tepat.
  4. Review daya tahan baterai. Pastikan baterai tidak turun jauh setelah 1 tahun pemakaian, karena tentunya kita ingin menggunakan ini untuk jangka waktu panjang kan? Review penggunaan di Youtube dengan kata kunci “Review jam tangan xxx setelah xx bulan/tahun pemakaian.

Salam sehat selalu dan semoga mendapatkan manfaat dari penggunaan smartwatch.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2021 Ronald Sukianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *