Saya tinggal di kawasan riverside Jakarta, layaknya kawasan Han Gang di Seoul, Korea Selatan. Jogging di pinggiran kali adalah kenikmatan sendiri bagi saya; menikmati aliran air kali yang sudah lancar karena sudah tidak ada sampah menumpuk, gemerlap lampu taman yang remang-remang di RPTRA Kali Jodo beradu dengan lumens lampu neon pedagang bakso sepeda, belasan bapak-bapak duduk sabar memancing ikan lele atau gabus dari aliran kali, anak muda bermain skateboard, dua sejoli duduk di bangku taman sambil makan jajanan mangga plastik. Riverside yang saya maksud adalah pinggir kali Grogol atau yang dikenal dengan Kalijodo, eks tempat prostitusi yang digusur oleh Bapak Basuki Tjahaja Poernama dan dibangun kembali sebagai taman dan ruang terbuka publik. Terima kasih bapak, tidak terbayang saya bisa jogging malam-malam di Kalijodo tanpa menggangu mereka yang sedang kerja mencari pelanggan.

Sore tadi, jam 18:30 saya berangkat dari rumah menuju riverside setelah penat bekerja di depan laptop seharian sudah menumpuk. Setelah berjalan sekitar 300 meter menuju pintu masuk yang biasa saya masuki, tampak pintu besi dan gembok menghalangi niat saya ke taman Kalijodo. Namun karena niat saya adalah jogging malam, saya teruskan lari memutar menuju sisi kali sebelahnya dan saya temukan bahwa pintu masuk mobil dan motor terbuka sehingga saya masuk lewat sana. Setelah lari-lari kecil sejauh 2 kilometer, saya beristirahat. Maklum, stamina saya menurun jauh dari kondisi sebelum PSBB Jakarta di bulan Maret karena saya tidak pernah berolahraga rutin sejak itu. Duduklah saya di bangku batu batas taman dengan kali, tempat para pemancing malam duduk sabar menunggu ikan menggigit pancingnya.

Bapak asongan penjual jajanan

Telur puyuh, mangga potong asem, permen, rokok, dan jajanan yang dipikul di cantelan kayu yang terus digendong di bahu. Saya mengamati ada sekitar empat pedagang yang berjalan tanpa arah lalu kemudian duduk di bangku taman, mencari pembeli yang tidak ada di taman malam itu. Taman Kalijodo sebagai tempat terbuka warga berekreasi juga merupakan tempat para pencari nafkah mencari sesuap nasi untuk menyambung hidupnya. Biasanya tempat ini akan sangat ramai pada malam Minggu, dimana para masyarakat grassroot mencari hiburan dengan budget terbatas. Pasar malam lengkap dengan komedi putar mini merupakan tempat hiburan yang menarik bagi anak-anak dari ratusan RT di kelurahan Pejagalan, Jakarta Utara. Saya berpikir apakah bapak-bapak tersebut masih akan berjualan sampai malam padahal di jam 7 malam saja sudah tidak ada pelanggan, kenapa tidak pulang saja ke rumah toh dagangan sepi. Alangkah pendeknya pikiran saya, setelah saya sadar bapak-bapak tersebut berjualan untuk mencari makan, tidak jualan artinya tidak ada penghasilan.

Tukang nasi goreng dan pecel lele

Dua makanan favorit saya, karena sangat versatile dan penuh cita rasa yang nikmat di balik harganya yang terjangkau. Momen favorit saya bersama pasangan adalah makan nasi goreng larut malam sambil berdiskusi dan bercerita, mulai dari pandangan terhadap LGBT sampai ngomongin masalah kantor. Wajib kamu coba jikalau sudah bosan pacaran di mall.

Kembali ke tukang nasi goreng dan pecel lele di pinggir Kalijodo, saya pun melihat mereka dari kejauhan sedang duduk menunggu pembeli. Tidak ada yang main ke taman Kalijodo artinya tidak ada pembeli yang makan disana. Lampu neon dagangan masih menyala dengan terang, apakah semangat ibu dan bapak menunggu pembeli masih terus benderang. Semangat ya bapak ibu! Bapak ibu adalah pahlawan bagi kita semua.

Ibu-ibu penjual minuman

Tokoh ketiga yang saya temui saat saya memutuskan lari putaran terakhir di dalam taman. Di sebelah tenda, dekat pullup bar di taman skateboard saya menemui beliau berjualan minuman diatas bangku batu taman. Umur beliau mungkin sudah menuju 70 tahun, terlihat dari rambut dan kulitnya yang sudah keriput. Hati saya sangat iba melihat ibu tersebut duduk menunggu barang dagangannya laku, sayangnya saya tidak bawa uang sama sekali saat itu. Pelajaran untuk besok, saya akan kembali dan membawa uang sekadar 10 ribu rupiah untuk jajan di Taman Kalijodo. Apa ibu-ibu tersebut tidak kedinginan di malam hari? Otak saya terus berpikir sambil mengatur pace dan cadence sambil mendengarkan lagu KPop.

Untuk abang-abang tahu gejrot, abang sewa becak-becakan, penjual casing handphone, penjual pita dan aksesoris, penjual boneka anak, penjual baju Gucci, ibu penjual popmie, dan para pejuang lainnya

Kita semua terdampak karena pandemi Corona ini, kondisi ekonomi tertekan, target penjualan tidak tercapai, penjualan sulit karena klien kesulitan membayar, khawatir terkena Corona, dan sebagainya. Bagi para pejuang kita di pinggir Kalijodo (dan tempat-tempat lainnya yang saat ini mungkin masih berjuang saat saya menulis ini dengan laptop), semoga kalian semua diberkahi kesehatan dan hati yang sekuat baja. Masa-masa sulit ini akan lewat, kita semua akan bisa keluar lagi dan berinteraksi di luar dengna tenang. Mata pencaharian bapak dan ibu akan membaik lagi, semoga rezeki akan datang lebih baik lagi dibanding sebelumnya. Bagi teman-teman rakyat Indonesia, jajanlah di pedagan asongan. 5 ribu Rupiah anda tidak seberapa dengan biaya parkir mobil di Grand Indonesia. 5 ribu Rupiah tersebut adalah penyambung hidup keluarga yang hidup di suatu rumah 3x4m di suatu gang Kecamatan Tambora. Mari kita bantu ekonomi kita bangkit di level grassroot dengan menjadi konsumtif (secara wajar!). Membeli makan dan minum lewat ojek daring pun suatu hal baik!

Saya tahu bahwa bapak dan ibu pejuang semua tidak dapat membaca tulisan saya, namun saya harus menuliskan hal ini di tengah kegundahan hati. Saya akan kembali besok untuk jajan sambil ngaso sehabis lari malam. Doa terakhir, semoga pandemi ini cepat berlalu dan semua diberi kesehatan untuk terus berjuang dalam hidup.

Ayah, ayo kejar aku. Hehehehehe. Gowes yang cepat.

seorang anak laki-laki yang naik becak mini di taman Kalijodo dengan riang.
Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 Ronald Sukainto
You cannot copy content of this page