Sunday Hike Bukit Air Terjun Janda Beranak Tiga, Desa Kiram, Banjarbaru Kalimantan Selatan

  • Kalimantan Selatan banyak memiliki bukit-bukit hijau yang menarik untuk dijelajahi.
  • Wisata Kiram dan Air Terjun Janda Beranak Tiga baru dibuka sekitar akhir 2020.
  • Kalimantan Selatan bukan hanya pertambangan batu bara dan kebun kelapa sawit!

Pada suatu Minggu pagi di bulan Maret 2021, saya meluncur dari tempat tinggal saya di Banjarmasin menuju area Kiram, Banjarbaru. Ternyata bukit tempat saya biasa hiking, Tahura Sultan Adam Mandiangin masih tutup sejak Maret 2020 akibat pembatasan sosial. Karena terlanjur jauh-jauh kesana, saya coba cari area sekitar yang ada bukit dan bisa dijalani dan Bapak penjaga Tahura menyarankan saya untuk mencoba ke tempat wisata yang baru dibuka yang bernama Air Terjun Janda Beranak Tiga. Daripada balik ke Banjarmasin membuang waktu percuma, saya putuskan untuk mencoba mencari tempat tersebut. 

Ternyata tempat tersebut tidak terlalu jauh dari kawasan Desa Kiram, sekitar 10 menit dari lokasi Tahura. Ada umbul-umbul dan spanduk yang mengarahkan ke lokasi tersebut. Dari observasi saya, lokasi tersebut baru saja dibuka terlihat dari tanah yang masih merah. Tidak jauh dari jalan utama, saya menjumpai lapangan parkir besar dengan tenda-tenda para penjual makanan. Sungguh pemandangan yang familiar bagi saya sebagai traveler yang artinya ini adalah lokasi yang tepat. Saya pakir mobil, lalu berjalan keatas. Ternyata lokasi gerbang wisata masih sekitar 500 meter dari lokasi parkit pertama, namun bagi saya yang berminat hiking tidak masalah rasanya berjalan kaki. 

Iuran masuk sebesar 5 ribu Rupiah, untuk pejalan kaki/pesepeda dan tambahan 10 ribu Rupiah untuk parkir mobil/motor. Karena saya parkir di bawah, tidak perlu bayar parkir di lokasi. Saat itu sekitar pukul 9 pagi, wisatawan lokal masih belum terlalu banyak yang datang walupun itu hari libur. Sekitar jam 12 siang saat saya pulang, semakin banyak wisatawan yang datang karena ternyata lokasi buka sampai jam 5 sore. 

Dari lokasi parkir, suara air terjun mengalir mulai terdengar dan jujur saya sedikit penasaran dengan bentuk air terjunnya karena Kalimantan Selatan jarang memiliki air terjun yang cukup tinggi. Sekitar 200 meter berjalan melewati jembatan kayu dan tanah berumput wujud air terjun mini mulai terlihat. Air terjun dengan undakan yang banyak dan pendek namun cukup menyenangkan untuk dilihat. Karena airnya pun sangat bersih dan bening, sangat menggoda untuk main air sambil berendam di air yang sejuk. Saya tidak bermain air karena tujuan utama saya adalah hiking, namun sebagian besar orang kesini untuk bermain air. 

Saya terus berjalan di rute pejalan kaki di sebelah kanan sampai terus menembus ilalang , menjauhiarea wisatawan sampai memasuki rute tanah dengan ilalang yang tinggi dan batang-batang yang menghalangi jalan. Artinya rute ini memang belum banyak dilalui orang. Berbekal rasa penasaran, saya lanjutkan terus rute hiking saya ke arah atas melewati beberapa padang rerumputan kosong yang sangat menenenangkan dengan pepohonan yang jarang, dengan elevasi sekitar 100 meter. Walaupun belum setinggi Bukit di Tahura, kita juga bisa mendapat pemandangan desa sekitar dari ketinggian yang menyejukkan. Untungnya cuaca pagi hari itu sangat cerah sehingga pemandangan tidak dihalangi awan.

Sekitar total 1 jam saya berjalan, saya menemui beberapa percabangan jalan dan rute-rute yang tampak seperti rute bekas rute trail motor. Ke arah kiri nampaknya ke arah Bukit Tahura (yang ternyata benar setelah saya diinfokan oleh warga lokal) dan ke kanan yang secara sirkular berakhir ke area parkir pertama. Sebenarnya saya cukup penasaran untuk kembali ke persimpangan dan mencoba rute ke kiri ke arah Tahura namun karena restriksi waktu akhirnya saya memutuskan kembali ke bawah. Cukup menarik untuk melihat dan mejelajah rute ke arah Tahura (info dari Bapak-bapak sekitar daerah sekitar masih dilihat beruang madu).

Perjalanan saya tutup dengan brunch indomie goreng + telur rebus di kedai Ibu-ibu sekitar seharga 10 ribu Rupiah. Sedikti mengobrol dengan si Ibu yang berpindah ke sini setelah Tahura tutup operasi selama setahun, dan obrolan mengenai ekonomi warga sekitar Kiram. Sehat selalu ya warga sekitar Desa Kiram dan semoga wisata lokal semakin maju!

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2021 Ronald Sukianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *