Hemat Energi – Dimulai dari Rumah 2

#2 dari 15 hari cerita tentang energi. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang sedang belajar tentang energi berkelanjutan.

Setelah bercerita tentang penyejuk udara, di tulisan ini saya akan bercerita tentang salah satu komponen penting yang sering terlupakan yaitu lampu. Dari membaca tulisan ini, pembaca akan mengerti mengapa lampu LED itu disebut lebih hemat dibanding lampu neon ataupun lampu pijar, dan spesifikasi apa yang perlu diperhatikan saat membeli lampu LED. Karena lampu adalah peralatan yang menyala hampir sepanjang waktu dalam setahun, pembaca bisa menghemat sampai dengan 26 ribu rupiah per lampu dari biaya listrik jika memilih lampu penerangan yang tepat. Tentunya dengan menghemat daya listrik melalui peralatan yang lebih efisien, kamu bisa membantu mengurangi emisi karbon yang tidak diperlukan!

Sedikit cerita mengenai teknologi LED. LED adalah singkatan dari Light Emitting Diode yang menjelaskan dengan lengkap bagaimana cahaya bisa dihasilkan, dioda atau material semikonduktor tertentu akan memancarkan cahaya ketika dialiri listrik. Efek tersebut dinamakan efek elektroluminensi, berbeda dengan lampu pijar yang bekerja karena prinsip cahaya pijar dari benda yang bertemperatur tinggi. Teknologi ini lebih efisien karena energi listrik yang dibutuhkan tidak sebesar teknologi pendahulu sebelumnya (lampu pijar, lampu halogen, lampu fluoresens) untuk menghasilkan cahaya dalam jumlah yang sama. Ilustrasi di bawah menggambarkan perbandingan efisiensi setiap jenis lampu:

Sumber: https://www.thelightbulb.co.uk/resources/lumens_watts/
  • Beam angle: sudut yang dihasilkan pancaran cahaya, semakin besar artinya area yang disinari semakin besar. Pastikan anda memilih sudut yang tepat sesuai kegunaan anda.
  • Life time: umur ketahanan lampur secara material, biasanya untuk lampu LED sampai 15000 jam.
  • Intensitas cahaya, diukur dalam Lumens: seberapa terang cahaya yang dihasilkan. Semakin terang, energi listrik yang dibutuhkan juga semakin besar.
  • Energi yang digunakan: diukur dalam satuan watt, yaitu daya listrik yang dibutuhkan.
  • Jenis cahaya, diukur dalam satuan Kelvin. Hangat kekuningan, atau putih dingin. Penjelasan mengenai perbedaan temperatur cahaya dan intensitas cahaya ada di bawah.

Dari grafik perbandingan diatas, dapat disimpulkan bahwa lampu teknologi LED lebih hemat dibandingkan dengan lampu lainnya. Gambaran simpelnya seperti ini:

Joko sebelumnya menggunakan lampu fluorescent 12 Watt untuk menerangi lampu kamarnya karena dia butuh sumber lampu yang terang untuk kegiatan belajar. Namun jika dia menggunakan lampu LED, dia hanya butuh lampu LED 10 Watt untuk memberikan jumlah terang yang sama. Artinya, secara tidak langsung LED bisa dikatakan “lebih hemat” energi.

Temperatur cahaya vs intensitas cahaya

Sumber: https://www.ledlightingwholesaleinc.com/Understanding-Lumens-vs-Kelvin-s/399.htm

Kelvin atau temperatur dapat dilihat di kemasan suat lampu LED. Untuk keperluan rumah tangga biasanya berjenis cool daylight atau 6,500 K. Sesuai ilustrasi diatas, karakter yang diberikan 6,500 K adalah yang sejuk dan lumayan terang. Karakter lampu ini dapat ditemukan di perumahan, pergudangan, dan aplikasi umum lainnya. Sedangkan karakter lampu di netral adalah cahaya yang terkesan netral dan terang yang dapat kamu temukan di rumah sakit. Cahaya karakter hanget di rentang 2,000 K cocok untuk kafe-kafe dan kamar tidur yang memberikan efek menenangkan dan rileks.

Lumens vs Candela – mana yang digunakan?

Saat kita belajar Fisika saat SMP dulu kita mengenal satuan Candela untuk melambangkan intensitas cahaya. Kenapa untuk lampu kita menggunakan lumens?

Rumus: 1 lm = 1 cd ⋅ sr.

1 Candela mewakili jumlah lumens yang dipancarakan dalam satu ruang steradian.

Satu unit steradian solid akan mengandung: 1 cd × 4π sr = 4π cd⋅sr ≈ 12.57 lumens

Karena lumens lebih representatif untuk menggambarkan intensitas cahaya yang dikeluarkan lampu, maka satuan tersebut digunakan dalam industri lampu.

Penghematan dan kontribusi ke lingkungan

Seperti peralatan listrik lainnya, lampu dapat berkontribusi ke penghematan biaya rutin untuk listrik dan juga memotong emisi karbon ke lingkungan. Cabang energi berkelanjutan satu ini biasa disebut ranting efisiensi energi atau energy efficiency yang juga mencakup: efisiensi rumah, efisiensi pembangkit listrik, efisiensi transmisi listri, efisiensi teknologi pembakaran pada kendaraan, dan semua efisiensi lain yang bisa dilakukan pada teknologi yang kita gunakan saat ini. Memang secara skala akan kelihatan kecil dibandingkan teknologi pembangkit terbarukan seperti PLTB yang dapat mencegah pembakaran batu bara untuk menghasilkan listrik namun cabang ini tetap perlu dilakukan dengan semangat continuous improvement yang manfaat baiknya banyak sekali.

Jika di rumah kamu ada 5 lampu untuk menerangi ruangan, kamu bisa menghemat 10 watt dengan mengganti lampu teknologi CFL ke LED. Apalagi kalau masih menggunakan lampu pijar, walaupun cuman untuk toilet atau kamar mandi tapi penghematan bisa sampai 20 watt loh! Secara hitung-hitungan, dengan menghemat 10 watt kamu bisa menghemat 65 ribu rupiah setahun. Memang kecil, tapi kumpulan efisiensi yang dilakukan di masing-masing rumah tangga akan sangat bermanfaat untuk menghemat daya yang perlu dibangkitkan dengan membakar batu bara atau lainnya.

Semoga bermanfaat!