Chiang Mai dengan Motor Matik 115 cc

Sawadee krap! Tulisan ini termasuk cerita yang paling lama ada di dalam konsep untuk ditulis. Perjalanan ke Chiang Mai sendiri sudah saya lakukan di bulan Desember 2018 dan baru saya lengkapi tulisan ini di bulan Mei 2020. Tanpa mengurangi keseruan dan tips yang ingin saya bagikan, silahkan dibaca catatan perjalanan saya. Semoga kita bisa tetap jalan-jalan asik dengan penggunaan bujet yang efisien. Dalam tulisan ini akan kita bahas:
 
1.  Menjelajahi Chiang Mai, Thailand bagian utara hanya dengan motor matik 115 cc dengan total biaya 500 baht (~230,000 Rupiah) selama dua hari.
2. Pergi ke Doi Inthanon dari Chiang Mai naik motor matik.
3.  Pemandangan dan suasana Doi Suthep saat malam hari, beserta alasan kenapa harus pergi kesana saat malam hari dibanding siang hari.
4.  Apa isi tempat paling tren di Chiang Mai untuk anak muda?
5.  Belajar celup ikat khas Thailand di Ban Rai.
6.  Menjelajah museum seni kontemporer di Chiang Mai sambil menjelajah kuliner local.
7.  Mengapa menjelajah naik skuter matik itu lebih asik? Selain biaya yang jauh lebih hemat.

Sampai di Chiang Mai – menggunakan Low Cost Airlines

Saya mengambil penerbangan malam dari Bangkok menggunakan maskapai Air Asia, berangkat dari Jakarta sekitar siang hari jadi menghabiskan waktu transit di Don Mueang. Sayangnya belum ada rute direct dari Jakarta ke Chiang Mai. Saat itu bulan Desember dan musim dingin sedang terjadi. Temperatur saat ini lumayan hangat untuk musim dingin. Ternyata kami diinfokan bahwa temperature belum turun seperti biasanya sehingga yang kita rasakan saat itu masih dibilang hangat. Rata-rata temperature saat itu sekitar 20 derajat celcius dan turun di daerah pegunungan (Doi Inthanon) di sekitar 15 derajat celcius. Saya setuju dengan pendapat orang untuk mengunjungi Thailand di bulan November dan Desember, terutama Thailand bagian utara. Ditambah dengan keberuntungan, kamu akan mendapatkan cuaca yang cerah sepanjang hari tanpa hujan sehingga kalian bisa menikmati aktivitas hiking, bersepeda, atau menikmati alam sepenuhnya.

Ada layanan taksi dari airport ke pusat kota seharga 80 baht (40 ribu rupiah), bahkan lebih murah dibandingkan dengan menggunakan Grab. Untuk akomodasi menginap, kami menginap di Buaraya hotel, hotel yang cukup nyaman untuk beristirahat. Lokasinya sangat strategis, ada tempat makan kaki lima di depan hotel dan juga toko 7/11 untuk mencari barang kebutuhan. Secara value hotel ini cukup baik, minimum service namun cukup dengan layanan standar WiFi, air panas, dan ruangan yang bersih dan bertemperatur sejuk. Untuk makan pagi memang kami tidak membayar lebih untuk menghemat biaya, kami memutuskan untuk sarapan pagi di pasar tradisional sekitar 3 menit berjalan kaki untuk menikmati makanan pagi tradisional.

Hari Pertama – Doi Inthanon & Doi Suthep

Memulai perjalanan di Chiang Mai, kami memutuskan untuk menyewa motor matik dari Mango rent a bike. Beberapa kelebihan dan testimoni mengenai servis mereka:

  1. Motor yang dirawat dengan baik, karena kami melihat langsung ke workshop mereka dimana mereka melakukan perawatan regular, pengecekan, dan peralatan yang lengkap.
  2. Mereka tidak meminta deposit passport, hanya butuh 1,000 baht deposit. Uang akan dikembalikan saat motor dikembalikan. Di beberapa tempat lain, butuh deposit passport atau 3,000 baht deposit sebagai jaminan.
  3. Staff yang sangat responsif dan membantu.

Beberapa kekurangan:

  1. Pilihan motor yang terbatas. Hampir semua jenis yang ditawarkan adalah motor matik.
  2. Jam operasional yang cukup terbatas, tutup jam 6 sore. Rata-rata tempat lain tutup jam 8 malam.

Untuk menghemat biaya, kami memutuskan untuk menyewa motor matik Yamah Fino 115 cc seharga 250 baht per hari. Sebenarnya ada pilihan motor manual 500 cc yang pastinya akan lebih bertenaga namun biayanya 1,000 baht per hari yang tentunya akan menguras kantong. Agak sedikit gambling kami coba motor matik ini, dengan harapan bisa menanjak di bukit Doi Inthanon dan Doi Suthep. Memang di 10 km terakhir menuju Doi Inthanon kita mengalami kesulitan pendakian, gas penuh kecepatan mentok di 20 kilometer per jam. Di jalanan normal lurus tanpa tanjakan kita bisa dapat 80 kilometer per jam kok. Intinya kami tetap selamat dan bisa jalan-jalan sampai puncak dengan motor 115 cc yang digunakan boncengan, selain itu kita bisa jelajah ke semua tempat lainnya. Tempat paling ekstrim saja bisa, apalagi cuman jalanan biasa, kita sikat selap selip layaknya di jalanan Jakarta.

Perjalanan pagi ke Doi Inthanon

Perjalanan kami mulai pagi hari, setelah makan pagi di pasar terdekat dan keliling-keliling sambil ambil motor di Mango, kita tancap gas menuju Doi Inthanon. Jalanan menuju Doi Inthanon sangat mulus dan panjang, layaknya jalan tol. Total jarak yang ditempuh bolak balik sekitar 200 kilometer. Kita jalan menuju Doi Inthanon pukul 10:30 dan mencapai checkpoint kedua pukul 13:15 untuk beristirahat makan siang. Di jalan kami sempat berhenti beberapa kali untuk toilet break dan meregangkan badan. Dalam perjalanan kita melewati beberapa gerbang penjagaan untuk pengguna mobil yang perlu membayar tiket, namun sampai ke atas kami tidak membayar biaya apa pun.

Makan siang Tom Yum ayam dan ikan air tawar goreng khas Thailan sungguh membuat energi kami naik lagi, setelah perjalanan jauh, lanjut menuju puncak. Kami sempat beberapa kali berhenti ke objek wisata seperti Mae Klang waterfall namun tidak masuk karena biaya masuk 200 baht sangat mahal dan kita fokus mencapai puncak untuk menuju Pagoda Raja dan Ratu. Sore hari kami sampai, disuguhi olah pemandangan cantik kedua pagoda yang ditaburi cahaya matahari sore di tengah kabut tipis yang mengitari bukit-bukit disana. Sayangnya, area pagoda ini sangat ramai oleh turis jadi momen menikmati tidak terlalu syahdu. Pagoda tersebut bercerita tentang kehidupan Buddha dan ajarannya yaitu Dhamma.

Perjalanan malam Doi Suthep

Selesai menjelajah Doi Inthanon dan menempuh perjalanan balik 100 kilometer kembali ke Chiang Mai, kami kembali ke penginapan untuk bebersih. Sekitar pukul 6 sore saat matahari mulai terbenam, kami melanjutkan perjalanan menuju Doi Suthep yang terkenal itu. Karena lokasinya lumayan dekat dengan pusat kota Chiang Mai (sekitar 30 menit perjalanan), kami tidak menyangka perjalanan ke Suthep akan berkelok-kelok tanpa henti. Penerangan lampu sangat minim dan di beberapa tikungan bahkan kami bertemu dengan sesosok pria. Sosok raja Thailand yang dibuat hampir berukuran 4 meter dengan tatapan mata yang mentap pengendara di jalan. Perjalanan jadi lumayan seru, naik bukit sambil menebak-nebak kira-kira di tikungan selanjutnya akan ada sosok tersebut atau tidak. Sosok pria tegap berpakaian kerajaan sambil menatap, cocok untuk membuat kita tetap waspada di jalan. Temperatur udara dan cuaca sangat baik disana, tidak perlu pakaian dingin untuk kesana. Namun jika kita mengendarai motor tentunya jaket anti angin akan sangat membantu.

Setelah 15 menit perjalanan mendaki dari bawah, kami berhenti di pertigaan besar dimana banyak didapati turis-turis berdiri di sebelah kanan menunggu jemputan bus dan penjual makanan di sebelah kiri. Kami memarkirkan motor di dekat trotoar di depan penjual jus buah. Saya sempat nyobain jus manga disana, enak banget! Untuk menuju ke kuil, kita harus menaiki anak tangga yang lumayan banyak. Lumayan lah untuk kardio malam.

Sampai di lapangan tengah kuil, kami duduk di lantai sambil mendengarkan alunan paritta Buddhist yang dibacakan para Bhikkhu dan menikmati tenangnya malam itu. Angin yang sesekali bertiup, malam yang terang penuh bintang, gemerincing lonceng kecil khas kuil dan lantunan paritta membuat momen semakin larut dalam kesunyian. Di Doi Suthep, selain momen foto terpaan cahaya bulan ke kuil emas yang sangat indah, suasana disana sangat menenangkan.

Kami menyarankan untuk pergi ke Doi Suthep pada malam hari untuk menikmati suasana malam dan juga menghindari kumpulan turis yang ramai pada siang hari.

Turun dari Doi Suthep, sempat berhenti di spot untuk melihat lampu kota Chiang Mai dari bukit. Namun karena rasa lapar sudah melanda, kami putuskan lanjut turun untuk makan malam. Tidak jauh dari turunan Doi Suthep, ada daerah vibrant yang cukup ramai karena diramaikan mahasiswa mahasiswi Universitas Chiang Mai. Kami makan di sushi bar untuk mengisi tenaga dengan karbohidrat.

Chiang Mai Night Bazaar

Saat perjalanan dari hotel menuju Doi Suthep, kami melewati suatu kompleks perjalanan dekat sebuah mall yang cukup besar. Sepulangnya dari sana dan makan malam, kami memutuskan untuk mampir jalan-jalan disana. Parkir motor dengan mudah bisa ditemukan, walau agak padat sih. Uniknya tidak ada tukang parkir yang minta bayaran loh disini.

Di night bazaar, banyak jajanan dan tempat jualan barang-barang unik. Pada dasarnya tidak jauh beda kok dengan bazaar di Indonesia, namun beberapa hal yang perlu kamu coba adalah:

  • Thai tea Chatramue, tokonya seperti toko boba gitu. Rasanya unik dan wajib coba.
  • Jajanan pasar hampir semua enak.

Berikut rangkuman perjalanan hari pertama kami di Chiang Mai, untuk bagian kedua akan bercerita tentang belajar seni. Ciao!