Trading Journal #1 – PTRO

[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”][et_pb_row _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default” custom_margin=”|auto|-22px|auto||”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”][et_pb_accordion _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”][et_pb_accordion_item title=”Trader angkatan Corona” open=”on” _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”]

Corona merubah hidup kita dengan berbagai cara. Salah satu yang berhubungan dengan topik yang saya tulis disini adalah mengenai trading saham di bursa efek Indonesia. Meskipun berinvestasi secara pasif di instrumen obligasi pemerintah dan reksa dana, saya belum pernah mencoba swing trading di IDX. Tahun ini, saya termasuk dari satu antara puluhan ribu investor baru di pasar saham yang mulai di pasa pandemi COVID19. 

 Tulisan ini merupakan jurnal pribadi saya dalam proses pembelajaran sebagai trader di pasar saham, agar analisis dan pemikiran yang saya lakukan dapat tercatat dan terekam progresnya secara berkala. “a PLAN not written is just an IDEA – Dwain Siady”

Dalam buku Up One of Wall Street, Peter Lynch membagi klasifikasi perusahaan menjadi 6 berdasarkan kondisi dan potensi imbal baliknya – fast grower, slow grower, stalwarts, turnaround potential, asset play, and cyclical. Dalam tulisan ini saya akan membahas ulasan saya terhadap jagoan saya dalam kategori cyclical company. 

[/et_pb_accordion_item][et_pb_accordion_item title=”The cyclical” _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default” open=”off”]

 Saya akan membahas satu perusahaan dari industri yang siklikal, naik turun berdasarkan harga komoditi dan tren permintaan dari produk tersebut. Ilustrasi pergerakan saham dari perusahaan jenis ini adalah seperti gelombang sinusoidal dengan titik puncak dan titik bawahnya memiliki jarak yang ekstrim. Jika kita tepat masuk saat bottoming sudah selesai dan sedang dalam proses menuju titik puncak maka potensi gain capital return akan tinggi sekali. Dengan reward yang cukup besar, tentunya datang dengan resiko yang besar jika harga jatuh bebas. 

 + high reward potential, relatively fast time frame

  – high risk, unpredictable market

Contoh industri siklikal adalah pasar komoditas; batu bara, minyak bumi, minyak sawit, emas, dan sebagainya. Namun untuk jagoan yang saya pilih adalah dari industri batu bara, berdasarkan pertimbangan seberapa familiar saya dengan industri tersebut sehingga harapannya market bisa lebih mudah saya baca. 

[/et_pb_accordion_item][/et_pb_accordion][et_pb_image src=”https://ronaldsukianto.com/wp-content/uploads/2020/12/PTRO.png” title_text=”PTRO” _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”][/et_pb_image][et_pb_accordion _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”][et_pb_accordion_item title=”Koreksi ke level support” _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default” open=”off”]

Saya prediksi index IHSG akan mengalami koreksi di minggu kedua Desember karena bensin momentum kenaikan November yang sudah mulai habis. Waktunya koreksi dan waktu istirahat untuk rally yang sudah terjadi sepanjang bulan November. Saat ini saya sudah memiliki PTRO di average 1717 dan menunggu waktu yang tepat untuk mengisi tambahan posisi di dekat area support sekitar harga 1925 -1935. Jika ada kepanikan pasar karena PSBB atau sentimen harga komoditas, mungkin bisa kita dapatkan di harga 1905. Di rentang harga itu kemungkinan konsolidasi untuk beberapa minggu sebelum

Sejauh ini, target price PTRO pribadi saya adalah di level 3,000 per lembar. Namun gut feeling saya berkata ada kesempatan PTRO dapat mencapai level 5,000 di peak siklus kecil komoditi batu bara di tahun 2023. 

 

[/et_pb_accordion_item][et_pb_accordion_item title=”Fundamental analysis” open=”on” _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”]

Secara fundamental, Petrosea memenuhi beberapa checklist yang saya terapkan untuk memilih suatu saham.

1. Net income tidak turun jauh dibanding 2019, setiap kuarter masih cukup sehat di tengah kondisi pasar batu bara yang lesu.

2. PE ratio dan PBV: 6.16 dan 0.65. Rerata standar deviasi 5 tahunan PER dan PBV adalah 21 dan 0.64.

3. Debt to equity ratio 0.48. Current ratio 1.58.

4. Gross profit margin 21.1%.

5. Rutin membagi dividen. Tahun lalu payout ratio 25% dan 5.2% dividen yield.

6. Free cash flow (TTM) 948 M. Market cap 2,068 M. Current price to free cashflow 2.18.

 

[/et_pb_accordion_item][/et_pb_accordion][/et_pb_column][/et_pb_row][et_pb_row _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”][et_pb_accordion _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”][et_pb_accordion_item title=”Outlook industry and potential positive sentiment” open=”on” _builder_version=”4.5.1″ _module_preset=”default”]

2020 adalah tahun yang buruk bagi semua industri, terutama industri batu bara. Total produksi batu bara Indonesia akan berada di sekitar 450 juta, turun sekitar 40% dari tahun 2019. Menilik kebutuhan batu bara terutama ekspor ke pasar India dan China yang kemungkinan meningkat tahun depan maka kegiatan penambangan juga semakin bertambah. PTRO yang bergerak di salah satunya kontraktor penambangan bisa memanfaatkan memomentum untuk menambah pemasukan bagi perusahaan.

 

[/et_pb_accordion_item][/et_pb_accordion][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *