Motoran Labuan Bajo ke Wae Rebo cuman pakai matik

September 2019 lalu, saya berlibur ke TN Komodo di NTT tepatnya pulau Flores. Labuan Bajo dan sekitarnya sangatlah cantik, saya sangat menikmati liburan di LB. Namun pada cerita ini saya ingin bercerita tentang petualangan ke Wae Rebo, Flores. Perjalanan saya menuju Wae Rebo seorang diri dari Labuan Bajo ditempuh dengan motor sewaan dengan biaya bensin hanya 40 ribu Rupiah.

Harapannya, setelah membaca ini kalian dapat lebih tercerahkan bagaimana caranya sampai ke Wae Rebo menggunakan motor, rute yang harus diambil, apakah aman berangkat sendirian tanpa teman, dan estimasi biaya yang diperlukan dengan budget dibawah 1 juta Rupiah PP sudah termasuk biaya inap dua malam.

Perjalanan motor dengan tempo santai-santai hanya memakan waktu 4 jam one way, sedangkan mendaki ke desa Wae Rebo dari pos bawah hanya butuh waktu 2 jam tempo santai sambil foto-foto.

Video 1 menit perjalanan: https://youtu.be/6ev7zLjpE6w

Perjalanan roadtrip Wae Rebo merupakan salah satu perjalanan paling indah dan memorable, saya sarankan untuk semua yang jalan-jalan ke Labuan Bajo untuk sekalian mampir ke Wae Rebo. Kalian bisa sampai tanpa bantuan pemandu arah kok!

Refleksi diri saat trip

Sebelum masuk ke perjalanan, saya ingin membagi refleksi perjalanan saya selama dua hari di Wae Rebo. Dua hari tanpa koneksi telepon dan internet secara total ternyata sangat menyenangkan, tanpa notifikasi WA kerjaan, notifikasi media sosial dan ritual scrolling Instagram sebelum tidur. Hidup saat itu hanya mengamati alam sekitar, ngobrol dengan orang yang baru dikenal, makan seadanya, dan tidur cepat.

Berkenalan dengan beberapa orang baru membuat saya ingat akan cara berkomunikasi tradisional: ngobrol langsung. Saya bertemu beberapa anak muda yang menarik, rombongan dari Lombok yang semua berasal dari Jakarta dan Riau. Mas-mas dari Riau adalah mahasiswa pariwisata yang sedang kerja praktek di Labuan Bajo, jadi mereka jalan-jalan sebelum masa KP mereka untuk menikmati momen dan memanfaatkan waktu di NTB & NTT. Baru beberapa hari lalu mereka turun dari Gunung Rinjani dan mereka berhasil mempengaruhi saya untuk pergi ke Rinjani karena keindahannya yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ada seorang dari Malaysia yang bekerja sebagai trader natural gas, pasangan baru dari Sumatera yang baru saja dari Bajo namun tidak seperti saya mereka bertemu kawanan manta, dan seorang keluarga Singapura yang istrinya berasal dari Pontianak, dan satu grup dari satu tim perusahaan kontraktor di Jakarta yang sedang liburan bersama. Orang-orang dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda, etnis dan umur yang berbeda semua berkumpul di desa kecil di atas gunung, semua menikmati kesunyian hidup sambil menatap langit cerah yang bertaburkan bintang.

Puas di Labuan Bajo, hampir kehabisan motor sewa

Setelah sampai di LB, puas menjelajahi dan tidur di atas laut Taman Nasional Komodo saya mengantar teman-teman yang kembali lewat bandara melalui Bali. Saya sendiri yang melanjutkan roadtrip menuju Wae Rebo.

Saat itu saya tidak booking motor sewa dari hari sebelumnya dan cukup yakin akan banyak tempat penyewaan disana. Dugaan saya benar, memang banyak tempat penyewaan namun tidak seperti Bali disini belum terlalu banyak jumlahnya sehingga saat itu hampir semua motor sedang dipinjam turis. Setelah minta tolong ojek yang saya pakai dari bandara sebelumnya, saya diantar ke kenalannya yang menyewakan motor dan mobil (lokasi di dalam dan tidak dekat jalan). Saya lupa namanya, tetapi yang punya adalah seorang Haji. Saya sangat puas dengan jasa mereka, terlebih saat saya memberitahukan kasus pedal rem tangan yang copot mereka juga sangat fair dan tidak menuntut macam-macam.

Sekadar tips, untuk yang menyewa motor kemungkinan besar para penyewa akan menanyakan motor akan dipakai kemana – apakah di sekitaran Labuan Bajo atau dibawa keluar daerah. Kebetulan tempat saya menyewa tidak berkeberatan motor dibawa keluar, namun belum tentu semua penyewaan mengizinkan motor dibawa keluar karena resiko yang lebih besar. Rule of thumb, semakin murah tempat penyewaan maka semakin ketat dan strict.

Rangkuman hari ke-0:

14:00 Sampai di Labuan Bajo dari sailing trip

15:00 Bayar ojek 50 ribu di bandara, buat bantu cari hotel dan keliling cari rental motor

15:00 – 16:00 Dapat motor sewa dan jalan-jalan ke Batu Cermin sambil santai sore

16:00 – 17:00 Pulang ke LB dan check in di Hotel Siola

18:00 – 19:00 Makan malam nasi goreng + rawon Jawa Timur sambil beli perbekalan air mineral dan makan ringan

Pergi lewat rute Ruteng – nyasar dan pedal rem copot

Untuk perjalanan berangkat, saya melalui rute Ruteng yang lebih jauh dibandingkan Nanga lili. Saya berangkat pagi-pagi sekali saat mathari baru terbit, mampir sebentar ke tukang bensin eceran untuk beli satu liter bensin untuk jaga-jaga bensin motor yang sudah saya isi full tank. Untuk rute pulang, saya lewat Nanga lili yang lebih cepat 2 jam dibandingkan rute Ruteng.

rute perjalan berangkat – nyasar-nyasar dan pedal rem sempat copot

2019 lalu, rute Google map masih belum mengarahkan rute melalui Naga lili karena ada jembatan yang putus namun waktu saya pulang jembatan tersebut sudah tersambung. Bagi kamu yang pergi sendirian, pastikan untuk melihat secara cermat rute yang akan kamu gunakan sebelum berangkat karena sinyal telepon akan sangat terbatas di perjalanan.

Alasan utama saya menggunakan sepeda motor adalah biaya yang murah, simpel, cepat, dan nyaman untuk berhenti di spot-spot yang bagus dan menarik. Mengemudi sepeda motor memberikan saya semua kemudahan tersebut. Rute naik turun dan belokan tanpa henti dari LB ke Lembor tentunya asik dan seru untuk dirasakan! Disana juga minim kendaraan lain sehingga bisa leluasa tuh motoran sambil santai-santai. Rute jalanan aspal tersebut sangat memorable bagi saya. Jalanan aspal lebar, kiri-kanan jurang atau hamparan padi dan bukit serta terpaan hangat sinar matahari, dan tentunya bisa hajar kecepatan konstan 80 km/jam tanpa khawatir lubang di jalanan aspal.

Salah satu momen menyenangkan lain adalah ketika saya melewati banyak anak-anak SD yang berangkat sekolah dengan seragam merah putih mereka. Mereka akan menyapa kamu dengan riang dan ramah “Selamat pagi mister!” sambil tertawa dengan mata mereka yang berbinar. Orang Flores ramah-ramah dan hangat loh. Saya sempat berhenti di pinggir sebuah sekolah saat jam pelajaran, karena rem tangan motor sempat ada masalah dan saya melihat kumpulan anak-anak yang bertelanjang kaki lagi bermain di lapangan dan lari-lari ke arah saya. Ternyata mereka sudah pulang sekolah! Saya sempat nebengi juga dua bocah SD yang rumahnya searah ke arah Wae Rebo.

Mengenai kejadian rem copot, saya mengalami gejala awal di 4 jam dari LB, saya curiga jalanan kerikil di salah satu area membuat getaran berlebih sehingga mur penahan pedal rem tangan sebelah kiri copot.

“KLONTANGG” – terdengan suara logam jatuh saat saya berkelok menuruni sebuah bukit kecil dan ternyata itu pedal rem kiri.

Motor saya matikan, memastikan tidak ada komponen lain yang copot tetapi sayangnya mur tidak dapat saya temukan. Kebetulan itu adalah motor matik, yang untuk starter awal maka pedal kiri harus ditekan maka saya harus mencari akal bagaimana mau nyalain motor kalau pedalnya copot. Hahahaha. Akhirnya ilmu mekanikal sebagai anak teknik mesin saya gunakan, saya cari batang kayu diameter sekitaran mur pedal, saya selipkan untuk menahan pedal. Untungnya aman sampai saya kembali bahkan pedal bisa saya copot modular waktu di parkiran sebelum pendakian. Jaga-jaga biar lebih aman, kalau ada maling mau gondol kan dia juga bingung “lah pedal rem gak ada gimana ini gua turun bukit!”

06:00 – 08:07 Perjalanan pagi hari menuju Lembor (sarapan pagi di Warung Banyuwangi)

08:30 – 10:58 Lembor ke persimpangan Dintor via jalur Ruteng

09:53 Sampai di checkpoint Kole

11:39 Mules island view checkpoint

12:20 Checkpoint 1 (SDN 1 – tempat Pangkalan Ojek)

12:35 Beres parkir motor dan mulai mendaki

Hiking ke atas sendirian tanpa pemandu

5 menit buat foto-foto kaya gini nih, taruh kamera diganjel batu

Mendaki ke atas tidak perlu panduan, karena rute jalan jelas dan digunakan warga untuk naik turun ke desa setempat setiap hari. Jadi pastinya bukan rute yang perlu dibuka atau ditutupi pohon dan tumbuhan liar ya. Rute jelas menanjak ke atas pokoknya. Rutenya sendiri tidak sulit dan saya butuh 2 jam dengan tempo santai sambil foto-foto di beberapa spot menarik. Saya sempat berpapasan dengan turis yang baru turun dari atas dan penduduk desa yang turun ke bawah untuk berbelanja kebutuhan harian.

Temperatur disana hangat, kamu hanya perlu bawa jaket anti angin atau jaket fleece untuk menghangatkan diri saat subuh hari dan malam. Pastikan sepatu yang proper untuk hiking, celana pendek/panjang yang nyaman, kaos, jaket ringan, daypack, topi untuk melindungi dari sengat matahari kamu bawa ya.

Saya sempat melewati dua rombongan besar yang sedang beristirahat, sambil menyapa dan lewat saya terus dan berencana istirahat di atas saja. Untungnya saat itu cuaca sangat cerah bahkan sampai di atas saya tidak mendapat kabut sedikitpun sehingga view desa sangat jelas. Walaupun begitu, tetap bawa jas hujan ya untuk jaga-jaga.

Seperti di film-film petualang, saya sesayup mendengar keramaian orang dan mulai tampak sebagian atap rumah penduduk desa Wae Rebo. Saya lanjut terus dan sampai ke sebuah gerbang kayu. Tampak beberapa anak berlarian dan bermain beserta anjing-anjing yang ikutan. Saya menyapa beberapa penduduk yang muncul dan saya disambut oleh seorang anak muda, kemudian dibimbing menuju rumah petinggi desa yang paling ujung dan besar. Saya meminta izin untuk menginap dan tinggal di Wae Rebo untuk semalam, dan beliau memberikan petuah dan juga beberapa cerita mengenai Wae Rebo. Karena mereka sudah banyak menerima kunjungan turis, mereka sudah biasa melakukan briefing ini. Intinya kita harus menjaga diri disana, makan dan tempat tidur disediakan di satu rumah yang dikhusukan untuk turis tidur. Kamar mandi dIsediakan, namun bagi yang ingin merasakan mandi di sungai juga diperbolehkan. Saya tentunya memutuskan mandi besok pagi saja karena air dingin. Saya berkeliling ke rumah warga sekitar melihat seorang ibu yang sedang mengolah biji kopi. Untuk membantu perekonomian warga, di rumah tidur juga dijual produk buatan warga lokal seperti kopi Flores, kain buatan warga, dan madu.

Saat makan malam, kita duduk berhadap-hadapan memanjang di ruang tidur. Momen nya terasa cukup erat karena orang-orang akan makan sambil mengobrol dengan kenalan baru. Menu makanan sangat sederhana yaitu sayuran dan telur dadar + nasi. Selepas makan malam, waktu bebas kami isi dengan mengobrol di luar sambil menikmati langit yang indah.

kamar kita, hangat loh!

12:35 – 14:30 Hiking to Wae Rebo

14:40 Introduction and arrival ceremony at the main house

15:00 – 21:00 Free time and mingle time with fellow travelers

Pulang lewat Nangaulik – jembatan sudah diperbaiki

Puas menjelajah dan tidur di lantai kayu, saya bangun pagi dengan segar. Setelah sarapan pagi dan mandi, saya berkemas untuk kembali turun ke bawah karena sewa motor saya hanya sampai jam 2 siang. Saya beli oleh-oleh madu lokal dan kopi khas Wae Rebo. Pamitan ke yang lain, saya turun segera. Pastinya waktu turun sangat singkat dibandingkan waktu naik ya. Sekitar jam setengah 10 pagi saya sudah di parkiran bawah. Saya pasang pedal rem, lalu gas untuk pulang ke Labuan Bajo.

Sampai ke pertigaan, ambil ke arah Bajo (kanan) bukan kiri (Ruteng). Saya menempuh rute yang berbeda dengan rute berangkat dan pemandangan di arah pulang sangat cantik! Karena sebagian besar adalah pinggir pantai, viewnya sangat menyenangkan. Lengkap sudah disuguhkan gunung dan pantai dalam dua hari.

Saya sempat berhenti di jalan untuk foto-foto dan minum, menikmati pemandangan, dan sempat stuck juga dijalanan pasir. Secara umum, jalanan ini lebih ramai dibandingkan rute pergi karena saya berjumpa beberapa truk yang lewat. Rute pulang ini kelokannya tidak sebanyak rute Ruteng, jadi lebih santai lah pokoknya.

Sekitar tengah hari saya istirahat makan siang dan sampai di LB hanya beberapa menit sebelum jam 2 siang. Sempat berhenti di Starbucks karena harus call urusan kerjaan sebentar dan mengecek pesan WA yang menggunung. Sekian perjalanan saya ke Wae Rebo yang sangat menyenangkan. Semoga mencerahkan bagi kamu yang berniat kesana.

08:03 – 09:35 Turun dari Wae Rebo ke parkiran

09:35 – 10:00 Turun ke pertigaan (kiri: Ruteng, kanan: LB)

10:00 – 10:58 Sampai di jembatan Wae Wanga

10:58 – 12:10 Nangaulik – Lembor [makang siang]

13:40 Sampai di Labuan Bajo

Biaya yang diperlukan ke Wae Rebo

Day 0:

Makan malam Labuan Bajo         50,000

Bekal air dan snack                30,000

Bensin (+backup)                       75,000

Rental motor 2 hari             300,000

Siola Hotel                         300,000

Batu Cermin masuk              20,000

Day 1 & 2:

Breakfast Lembor day 1 40,000

Lunch Lembor day 2        50,000

Biaya inap Wae Rebo          325,000

*biaya inap termasuk tempat tidur, sarapan, makan siang, dan makan malam dengan menu sederhana

Biaya total: 1,190,000 IDR (10 September 2019)

Untuk menghemat, kamu bisa menyewa motor yang lebih kecil (-50%) atau menghemat biaya inap di LB dengan tinggal di shared dorm dengan biaya sekitar 100 ribu Rupiah. Total biaya bisa ditekan ke 840 ribu Rupiah, di bawah 1 juta Rupiah yang menurut saya sangat worth.

Tips and tricks

  1. Waktu terbaik: musim kemarau/kering dan hindari musim hujan. Bulan terbaik adalah Mei sampai September.
  2. Produk lokal yang wajib dicoba: kopi lokal dan madu hutan.
  3. Dimana sewa motor? Banyak sekali di Bajo, biaya 75 ribu per hari untuk matik kecil, 150 ribu per hari untuk 150cc matik, dan 300 ribu per hari untuk motor besar. Namun pilihan disana terbatas, sekitar 90% adalah motor matik sehingga mencari motor besar dengan transmisi manual akan sangat menantang.
  4. Aman gak motoran disana? Aman, selama memakai APD helm dan berpakaian yang aman.
  5. Parkir motor dimana? Sebelum titik mulai pendakian, ada tempat parkir di samping jalan. Aman kok. Kalau masiht akut, copot saja pedal remnya.
  6. Batu Cermin bagus gak? Kalau ada waktu 1 jam, boleh lah main kesana, biasa aja sih kalau menurut saya.
  7. Berapa cash yang perlu dibawa? 1 juta Rupiah cukup.
  8. BAWA SNACK SENDIRI ya karena gak akan ada yang jualan disana ataupun di jalan.

Labuan Bajo – Ruteng – Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2021 Ronald Sukianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *